Sabtu, 14 Januari 2017

Pemahaman Sederhana

Kini malam begitu cepat berganti siang, semenjak dunia benar berputar malamku terasa sangat singkat tak cukup puas kunikmati tidur untuk beberapa saat saja.
Saat kami masih tinggal di komplek perumahan elit, tiap hari terasa menyenangakan dan tak terbersit sedikitpun hidup di jalan degan tidur di atas koran bekas. Semua terjadi dengan singkat cerita dan pemahaman yang cukup dimengerti, dengan dasar bahwa hidup tidak selalu di atas bahwa dunia pasti berputar.
“Bangun de, ayo kita cari makan semoga bisa beli nasi sama tempe ya!”
“Iya kak, dari kemarin kita makan nasi sama garam terus, bosan kak!”
“Jangan ngeluh ya de, semua sudah ada yang merencanakan, jika kita ngeluh nanti rencana indah tuhan diundur lagi waktunya gimana dong?”
“Jangan kak, bilangin aku gak ngeluh sama sekali, jangan rubah waktu indah yang sudah tertulis takdir kak”
“Iya de, ayo bawa kaleng buat kita ngamen sama peralatan kita mungut sampah!!”
“Iya kak!!” Sudah hampir 2 tahun mereka cukup hidup dengan sederhana menjadi pengamen dan pemungut sampah setelah petang mereka pulang dan menyuruh adik lelakinya itu tidur, setelah tidur kakaknya pergi kembali untuk memungut sampah atau menjadi pengamen, mereka beryukur jika sehari sudah bisa makan 2 kali, itu berarti mereka dapat uang sekitar 15 ribu hasil yang jarang didapatkan. Dengan 15 ribu itu bisa beli nasi 2 bungakus air 2 plastik dan dengan tempe 2 potong.
Saat malam dimana ia bermimpi tentang betapa nyenyak tidur di atas kasur empuk, ruangan yang begitu nyaman, pagi dengan sarapan yang tersedia di meja, sekolah di antar jeput semua dengan baik dan mimpi itu buyar ketika suara petir terdengar begitu dekat di telinga dan adiknya yang merengek ketakutan.
Melalakukan kegiatan itu tiap hari membauat mereka sangat mengerti bagaimana harus menghargai hidup,
Di suatu siang suara teriakan adiknya memecah nyayian pengamen itu dan langsung berlari ke kerumunan, saat sampai disana kerumunan itu hanya orang orang kosong dengan tak ada korban yang tergeletak atau masalah yang ia pikirkan. Dia pun menghela napas lega, dan bersyukur
“Dika, dika” dengan berlari dan nafas sesaknya
“Apa sit kau mengagetkanku?”
“Apa kau tadi menghampiri kerumunan itu?”
“Iya, aku kesana? Kenapa? Tak ada apa pun disana saat aku lihat?”
“Adikmu hampir tertabrak mobil dik, tapi belum sampai dia tertabrak dia keburu pingsan, adikmu dik. Harry!”
“Lalu kemana dia pergi, apa seseorang mengatakan sesuatu padamu?”
“Iya orang itu bilang akan membawa adikmu ke rumah sakit teratai di dekat toko yang biasa kita mungut sampah itu dik?”
“Baik wan, terimakasih ya, aku harus segera menyusul adikku..”
Aku tak bisa berkata kata saat perjalanan ke rumah sakit namun saya sangat kaget melihat adikku tertawa lepas bersama orang itu, Aneh dalam benakku..
“Harry apa kau tak apa? Siapa dia ry kenapa kau begitu nyaman bersamanya?”
“Apa ini dika, kakakmu harry?” dengan suara lembut dan snyman menawan pria berjas hitam itu terlihat tampan mengingatkan pada ayahku dulu
“Kenapa kau mengenalku dan adikku?”
Dia menghampiri dan memeluk, menangis dan meminta maaf
“Maaf kenapa? Siapa anda?”
“Saya, anton dik, ayahmu sempat meneleponku waktu saya masih di luar negeri dia mengirim foto kalian dan menyerahkan hak asuh kepada saya, ayahmu juga menyerahkan saham yang masih tersisa sebelum dia bangakrut padaku, aku kakak dari ayahmu dik”
Dari awal pertemuan kami di rumah sakit kita hidup bersama dengan istri dari paman yang menyayangi kami seperti anaknya, mulai sekolah kembali dan menjalani hidup seperti keluarga
“Adik ingat dunia akan terus berputar, kita harus siap kapanpun kita jatuh dan kembali ke bawah!”
“Iya kak!”

Jangan Biarkan Indonesia Terbelah

Namaku Shavia. Aku salah satu perempuan yang sangat menjaga lingkungan sekitarnya. Di sekolah, aku mengikuti Club pencinta Alam. Aku bersekolah di Student High school duduk di kelas 2 SMP. Sahabatku bernama Chuck, dia mengikuti Club Dance. Sayangnya, dia sekarang sangat lesu dan malas mengikuti Dance. Ia berniat mengikuti Club Tinju.
Di rumahku, banyak tanaman hijau yang kurawat dengan Hati-hati agar Tanaman tidak Muntah (kebanyakan Air). Adikku, Shania. Juga ikut membantu Menyiram tanaman dan Memberi pupuk. Suatu hari, aku dan Chuck sedang berjalan pulang ke rumah. Kami melihat seseorang Mencabut tumbuhan hijau yang sangat indah “hei, jangan diperlakukan seperti itu!” seruku
Anak itu menoleh “memang kenapa? Apa masalahmu?” tanya Dia enteng
aku tak bisa menahan amarahku dan memukul dagunya dengan keras “Aww… apakah kau gila? Aku ini Anak gubernur” keluhnya
“Aku tak peduli kau anak siapa! Aku memang bukan anak dari gubernur, menteri atau presiden. Tapi aku anak Seorang Pegawai biasa. Aku selalu diingatkan untuk menjaga kelestarian alam. Jika kita merusak kelestarian alam. Semua hewan akan punah. Tumbuhan hijau tak lagi hijau. Banjir akan sering melanda kita. Jika banjir, tumbuhan tidak akan bisa tumbuh. Makanan akan menipis” jelasku panjang lebar, Anak itu dan Chuck terpana melihat Penjelasanku
“Kau hebat ya, oh iya. Kenalkan namaku Silvy. Aku senang mendengar penjelasanmu. Aku bangga rakyat indonesia yang mencintai budaya, kelestariannya dan lain-lain. kita juga harus menjaga Kebudayaan kita. Jangan sampai masyarakat indonesia terbelah karena diiming-iming Negara lain. Apakah rumahmu di perumahan casablanca? Mau berangkat bareng?” terang Silvy
“dengan senang hati, Ayo” jawabku sambil mengenggam Tangan Silvy
“wah, seru juga ya ikut club pencinta alam. Aku pindah ah” kata Chuck
“hahahha… kau ini” tawaku dan kami bertiga bersahabat selamanya

Bocah di Sudut Pasar

Aku sekarang duduk di bangku kelas IX SMP tapi Ayah masih juga belum menambah uang sakuku. Kadang aku kesal, ketika melihat teman-temanku membeli aksesoris cantik yang harganya cukup mahal. Aku kesal karena uang sakuku tak cukup untuk membeli aksesoris yang sejenis. Satu-satunya yang bisa aku lakukan hanya menghela napas menahan kesal.
Gerutuanku ini membuatku merasa gerah padahal hari ini tidak terlalu terik. Ayah tidak mengerti perasaanku. Ibu pun demikian. Kulangkahkan kakiku meninggalkan gerbang sekolah dan teman-temanku yang sedang asyik memilah dan memilih aksesoris di sebuah toko aksesoris di depan sekolah. Kenapa toko itu harus berada di depan sekolahku? Hah! Aku semakin kesal! Aku sadar jika aku bergabung dengan mereka, menyiksa mata dan batinku melihat aksesoris mahal yang tidak bisa aku beli, maka aku akan membutuhkan hati yang baru karena yang satu ini akan hancur, tentunya. Bisa jadi aku iri pada mereka. Tapi apa yang harus aku lakukan demi menambah uang sakuku? Baiklah! Aku berniat merajuk ketika sampai di rumah nanti agar Ayah menambah uang sakuku.
Langkah demi langkah kutiti di jalan yang lebarnya tak seberapa ini. Sampai akhirnya Nida dan Fatma, teman sekelasku, dengan gagahnya lewat di sampingku mengendarai sepeda motor. Lagi-lagi, aku merasa jengkel dengan hidupku. Kenapa hanya aku yang harus berjalan kaki ke sekolah dengan jarak yang cukup jauh? Sedangkan anak lain seusiaku sudah diijinkan dan diberikan sepeda motornya sendiri? Aku melewati jalan yang melintang sambil menggerutu seperti ibu-ibu yang baru saja pulang dari pasar saat harga sembako sedang melambung tinggi. Aku terlalu sibuk membenci hidupku sampai aku hampir lupa bahwa aku diberikan tanggung jawab dari kelompokku untuk membeli beberapa kebutuhan untuk praktik Biologi besok. Aku mengurungkan niatku untuk langsung pulang ke rumah.Di persimpangan jalan, aku berbelok ke arah pasar. Sebenarnya aku tidak terlalu suka pergi ke pasar. Terlalu ramai! Tapi mau bagaimana lagi? Matahari sudah menikuk menandakan siang akan berganti sore tapi pasar ini masih ramai dilancongi para pahlawan rumah tangga dengan berbagai kostum. Mulai kostum ala istri ulama sampai kostum ala istri pemain bola. Aku baru saja memasuki halaman depan pasar tapi di pikiranku sudah terpenuhi bisikan-bisikan jahat untuk mengurungi niatku. Beberapa sepeda motor terparkir rapi memenuhi halaman depan pasar yang difungsikan sebagai lahan parkir. Aku juga melihat beberapa petugas parkir yang wajahnya tak asing bagiku. Dari jauh, kulihat seorang bocah kecil dengan kaos biru dan celana merahnya berdiri bersandar di dinding sebuah toko sembako, di sudut pasar. “Seusia adikku”, kataku dalam hati. Dia menatap kosong ke bawah, pada sepasang sendal lusuh yang dikenakannya. Aku pikir tidak ada yang salah dengan sendalnya. “Hanya lusuh, masih bisa digunakan”, sekali lagi aku berkata dalam hati. Sesekali ia menggerakkan kakinya, menggesek-gesekkan sendalnya ke lantai. Aku melangkah lebih dekat. Kulihat seorang ibu melintas di hadapannya. Mendadak, bocah itu meraih plastik belanjaan yang sejak tadi dijinjing oleh ibu tersebut. Terkejut, seketika ibu tersebut menarik plastik belanjaannya dan menatap sinis ke arah bocah berkaos biru itu. Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Mengapa bocah itu menarik plastik belanjaan itu?
Mengikuti rasa ingin tahuku, aku mendekat. “Im, sini Im!”, suara seorang ibu paruh baya terdengar dari dalam toko memanggilnya. Seketika wajah bocah itu menjadi sumringah. Dia berlari menghampiri suara yang memanggilnya dengan begitu semangat. Tak lama, ia keluar dengan menjinjing beberapa barang belanjaan. Dia berjalan agak pontang-panting, sepertinya barang yang dibawanya cukup berat. Sejenak aku ingin membantunya, tapi pada akhirnya aku hanya memandanginya saja. Dia berhenti sejenak, melepaskan jinjingan di tangannya. Kulihat nafasnya mulai terengah-engah. Dia kembali menjinjing bawaannya menuju sebuah angkutan umum dengan setengah berlari. Lagi-lagi, aku hanya menatapnya. Ibu paruh baya tadi memberinya beberapa lembar uang seribuan. Senyum bocah itu kembali merekah. Nafasnya masih terengah-engah. Ia seperti mendapatkan kembali energinya yang habis dikurasnya beberapa menit yang lalu. Ia kembali berdiri di samping toko di sudut pasar itu sambil berusaha mengantongi uang yang diterimanya. Tangan mungil itu memijat-mijat tangan lainnya bergantian. Kurasa dia merasakan tangannya mati rasa karena barang yang dibawanya tadi sepertinya cukup berat. Setengah dari berat badannya, kurasa.
“Im, tolong kesini Im!”, kali ini si pemilik toko yang memintanya membantu membereskan toko. Bocah itu memanggul barang-barang yang sebelumnya diletakkan di luar ke dalam toko. Cukup banyak barang yang ia angkut tapi tetap terlihat begitu semangat. Kali ini, dia menerima upah yang lebih banyak dari sebelumnya dan pergi meninggalkan toko dengan wajah berseri-seri. Aku memandanginya sampai dia benar-benar hilang dari penglihatanku. Setelah ia tak lagi terlihat, aku tersadar dari lamunanku dan melihat sebagian toko di pasar itu sudah mulai ditutup oleh pemiliknya. Dan aku belum mendapatkan satupun barang yang diperlukan kelompokku! Kebetulan toko di sudut pasar itu, tempat bocah kecil dengan panggilan “Im”, yang aku tidak tahu siapa nama aslinya, mungkin Boim, Toim atau Naim, masih belum tutup. Aku segera mencari semua yang kubutuhkan. Saat aku hendak membayar semua belanjaanku, bocah itu terlintas di pikiranku. Demi memuaskan rasa ingin tahuku, aku bertanya pada si pemilik toko. Betapa terkejutnya aku mendapat jawaban dari si pemilik toko. Mataku mulai berkaca-kaca tapi aku mencoba menahan agar titik-titik kecil air mata tidak meleleh dari sudut mataku. Akan sangat memalukan jika aku harus menangis di tempat umum seperti ini.
Aku meninggalkan pasar yang mulai sepi. Parkiran yang tadi kulihat hampir penuh, sekarang sudah bisa kuhitung jari.
Hari semakin sore dan jarak yang harus kutempuh masih cukup jauh. Sepanjang perjalanan, aku memikirkan bocah tadi. Betapa hebatnya dia. Bocah kecil yang tangguh. Setiap hari, sepulang sekolahnya ia berdiri di samping toko di sudut pasar itu, tanpa sedikit pun rasa malu menjadi kuli angkut di usianya yang masih sangat belia agar bisa mencukupi semua keperluan sekolahnya. Dia hanya hidup berdua dengan neneknya yang sudah tidak terlalu bugar. Aku mengingat semua yang telah kupikirkan sepulang sekolah tadi. Aku jauh lebih beruntung dibandingkan bocah itu tapi aku masih saja mengeluh! “Tidak tahu diri!”, hinaku pada diriku sendiri. Kini air mata benar-benar meleleh di pipiku. Beberapa orang melintasiku, memandangiku, tapi aku tidak peduli. Aku benar-benar menyesali perbuatanku. Tidak seharusnya aku membenci hidupku saat masih ada orang lain di luar sana yang hidupnya lebih sulit dari hidupku. Seorang anak kecil di sudut pasar telah membuka mata dan hatiku. Ayah, Ibu, maafkan aku yang terlalu banyak menuntut. Tuhan, maafkan aku karena aku kurang bersyukur atas apa yang telah Kau berikan untukku.
Aku mengingat-ingat jawaban Ibuku, yang sebelum hari ini tidak begitu aku pedulikan. Suatu saat aku pernah bertanya, ”Bu, mengapa Tuhan menciptakan Atas dan Bawah?”
“agar manusia selalu bersyukur saat melihat ke bawah dan berusaha lebih keras saat melihat ke atas”, jawabnya.
THE END

Ternyata Ayahku Adalah Wali Kelasku

“Dzul! Dzul! bangun, Dzul! sholat tahajud dulu!” Alizah, sahabat Dzulvia membangunkan Dzulvia. “Uh! emang pukul berapa, sih Al!” kata Dzulvia seraya menarik selimutnya. “Pukul 2 tahu!” ujar Alizah setengah kesal. Dzulvia segera bangun lalu merapikan kasurnya. “Yuk! wudhu dulu!” ajak Dzulvia. Alizah dan Dzulvia segera wudhu.
Namanya Dzulvia Azilah Melatika. Ia tinggal di panti asuhan ‘Kasih bunda’. Orangtua Dzulvia dikabarkan meninggal pas umur Dzulvia 4 tahun. Lalu ia diasuh oleh neneknya dan kakeknya. Tapi, pada umur 6 tahun, nenek dan kakek meninggal. Jadi, ia dibawa ke panti asuhan ini. Oya! pemiliknya namanya bunda Melza. Di panti asuhannya ada hanya 5 orang. Yaitu Dzulvia, Alizah, Miliena, Fhino dan Rico.
Usai wudhu, Dzulvia dan Alizah segera sholat tahajud. Usai sholat dan merapikan alat sholat, Dzulvia menyambar handuk gambar domba lalu mandi. Usai mandi, Dzulvia memakai seragam atasannya baju lengan panjang warna putih polos, rok semata kaki warna hijau, jilbab putih dengan bordiran logo sekolahnya dan bordiran namanya. Tak lupa dasi warna hijau berlogo sekolahnya. Dasinya mirip dengan dasi wisuda. Lalu memakai kaus kaki hitam-putih. “Ayo cepat!” tegur Rico. “Iya!” ujar Dzulvia seraya mengambil buku paket SKI (sejarah kebudayaan islam), Matematika, dan bahasa arab. Yup! setiap usai sholat tahajud dan mandi, mereka belajar kelompok. “Allahu Akbar… Allahu Akbar…!” azan Subuh telah berbunyi. Dzulvia segera menggelar sajadah dan mengenakan mukena. Lalu sholat subuh. Karena wudhunya belum batal, jadi langsung sholat deh.Usai sholat dan merapikan alat sholat, Dzulvia memasukkan bukunya dan mukena ke dalam tasnya. Lalu menggendong tasnya warna hijau bergambar bunga warna biru, menuju ruang makan. “Hallo Bun! Fhey!”sapa Dzulvia, Alizah, Rico, Miliena, dan Fhino sesampai di ruang makan. “Halo!” sapa balik bunda Melza dan anaknya yang masih kelas 1, Fheyra atau disapa Fhey. “Hari ini sarapan apa, Bun?” tanya Alizah. “Nasi goreng dengan udang balado dan jus melon,” jelas Fhey. Usai sarapan, Fhey, Dzulvia, Dkk berangkat sekolah. Oya sekolah mereka Globanic Islamica Elementary School (GIES). Usai sampai di sekolah, Fhey dan Miliena masuk kekelas 1-Alif. Rico dan Fhino kekelas 4-Kha. Sedangkan Dzulvia dan Alizah ke kelas 5-Ra.
“Teet… Teet… Teet…” Bel berbunyi. Semua siswa/Siswi GIES berbaris di halaman depan sekolah. Senin ini yang menjadi petugas upacara kelas 5-Ra. Dzulvia menjadi pembaca UDD (undang-undang dasar) 1945. Sedangkan Alizah menjadi Dirijen. Usai Upacara bendera/Apel, Semua murid dilarang masuk ke kelas dulu. Mereka disuruh duduk di halaman bekas Upacara bendera.
“Assalamualaikum Wr.Wb!” salam ustadz Achmad, selaku kepala madrasah. “Waalaikumsalam WR.WB!” Koor semua murid. “Hari ini, kita kedatangan guru baru, namanya Ustadz Roby,” jelas Ustadz Achmad. Ada seorang pria tampan, tinggi, dan putih berdiri di samping ustadz Achmad. “Dia menjadi wali kelas 5-RA!!!” seru Ustadz Achmad. “Hore!!!” sorak murid kelas 5-Ra. Mereka disuruh masuk kelas. Ustadz Roby masuk ke kelas 5-Ra. “Assalamualaikum!” sapa ustadz Roby. “Waalaikum salam!!!” sapa balik murid kelas 5-Ra. “Hari ini pelajarannya apa?” tanya ustadz Roby lembut. “SKI, Matematika, sama bahasa arab!” jawab Dzulvia. “Gimana kalau kita perkenalan dulu?” usul Ustadz Roby. Mereka setuju. No. absen Dzulvia setelah Alizah. “Setelah Alizah, Dzulvia!” panggil ustadz Roby. “Nama saya Dzulviana Azilah Melatika, saya lahir tanggal 3 April 2006, saya lahir di Blablabla…” Dzulvia memperkenalkan dirinya panjang Lebar. “Ustadz Roby! Ustadz, bangun!” Dzulvia berusaha membuyarkan lamunan ustadz Roby. “Eh! iya, Dzul!” akhirnya Ustadz Roby tersadar dari lamunanya. “Ustadz kenapa?” tanya Dzulvia. “Biodata kamu, sama kayak anakku, tapi ia diculik,” jelas Ustadz Roby.
Waktu istirahat
Dzulvia memesan semangkuk Bakmi, jus melon dan es krim vanila dengan hiasan buah ceri dan astor. Kalau Alizah memesan semangkuk bakso, jus anggur, dan donat selai blueberry. Usai datang pesanan mereka, mereka membuka pembicaraan. “Aku punya firasat, deh, Dzul kalau kamu anak Ustadz Roby,” ujar Alizah, lalu menggigit lembut baksonya. “Alah! itu cuma firasatmu aja, Al!” cetus Dzulvia, lalu menyeruput jus melonnya.
Keesokan hari di sekolah pada jam istirahat
“Dzul! bisa kamu ikut Ustadz ke ruang Ustadz?” pinta Ustadz Roby pada Dzulvia. “Eumh… eh bisa, Us!” ujar Dzulvia. Dzulvia mengikuti Ustadz Roby dari belakang.
“Duduk!” perintah Ustadz Roby pada Dzulvia sesampai di ruangan beliau. Dzulvia duduk. “Kamu punya tanda lahir di siku bentuk lingkaran?” tanya Ustadz Roby. “Nih! kok Ustadz bisa tahu?” kata Dzulvia seraya menunjukkannya. “Hah! kamu adalah anakku, Dzul. Soalnya namanya sama, lahirnya sama, pokonya semua sama!!” pekik Ustadz Roby. “J.. ja…d..i… Jadi!!!” pekik Dzulvia. Spontan, Dzulvia memeluk Ustadz Roby yang ternyata ayah kandungnya. “Yah! gimana ceritanya, kok aku dibuang, sih!” tanya Dzulvia. “Begini, dulu, pada umur 2 bulan, ada yang maksa kamu untuk diadopsi sama wanita dan pria tua, dia ancam ayah sama bundamu kalau tak mau ngasih kamu, nanti ia lapor polisi kalau kami mencuri kamu, Dzul!” jelas Ayah. “Hah! tapi, katanya Ayah dan bunda meninggal. Katanya mereka nenek kakekku,” cetus Dzulvia.
“Dzulvia, ayo kemasi barangmu! ada yang mau mengadopsi kamu,” perintah bunda Melza. “Dzul! kubantu, ya…,” ujar Alizah dengan lirih. Mereka memasukkan barangnya ke koper Dzulvia. Lalu Alizah mengantar Dzulvia sampai di depan pintu. “Loh! kamu Dwi Alizah Shepta, kan?” tanya Ayah Roby. “Iya, Ustadz! saya di sini karena orangtua saya sudah meninggal,” jelas Alizah. Ayah Roby menganggkat Alizah sebagai anaknya. “Makasih, Ustadz.. Eh… Ayah!” ujar Alizah. Dzulvia dan Alizah menjadi anak Ayah Roby dan Bunda Zania. Mereka hidup bahagia.

Ada Cerita di Tahun Enam Tujuh

Kawan, izinkanlah saya menceritakan satu kisah kecil di tahun enam tujuh, namun berjanjilah…, jangan memberitahukan kisah ini kepada orang-orang berpakaian hijau. Nanti kamu diculik.
Masih kuingat bagaimana rasanya sebilah parang akan menggorok leherku, saat fajar telah menyingsing sempurna. Di belakang halaman rumah reyot —di pinggir kali— bersama Tuanku, kami diperhadapkan pada kematian.
Sebelum kematian itu menjemput, saya mencoba melawan sekuat tenaga, menyelamatkan Tuanku dan kabur dari tempat penjagalan. Namun sayang seribu sayang, saya hanyalah makhluk tak berdaya, tak sebanding melawan orang-orang berpakaian hijau, dan tahukah kau kawan konsekuensi dari perlawanan yang sia-sia itu? Saya diseret ke dalam penjara yang terbuat dari bilah-bilah bambu.
Kakiku telah diikat dan tubuhku dikurung sedemikian rupa, seluruh nyaliku ciut untuk melawan. Bahkan untuk menopang tubuh saja saya tak kuat, apalagi untuk kabur. Namun yang membuat hati ini meringis dan sedih nian, tatkala melihat Tuanku meringis kesakitan. Popor senjata mendarat di pelipisnya, darah mengucur dengan deras, saya hanya menatap pilu. Tapi apalah daya diriku, makhluk tuhan yang lemah.Mungkin di dalam benakmu ada satu pikiran yang berkelebat, dikurung dalam penjara yang terbuat dari bilah-bilah bambu namun tidak bisa kabur. Kamu keliru kawan, sungguhpun saya telah berusaha untuk kabur dan sungguhpun saya berusaha untuk menyelamatkan Tuanku. Tetapi kawan, ke empat sisi penjara bilah-bilah bambu itu dijaga ketat orang-orang berpakaian hijau, dengan sebilah parang di tangan kanan, pistol tersangkur di pinggang sebelah kiri, bagaimana mungkin saya yang lemah ini bisa kabur. Ditambah lagi tatapan orang-orang berpakaian hijau bak mata elang yang tajam, laksana mata itu seperti pedang yang siap menusukimu, menyayat-nyayat kulit dan tubuhmu.
Di awal tahun enam tujuh, saya dan Tuanku berlari menyusuri satu rumah ke rumah lain, satu kampung ke kampung lain yang ada dalam wilayah Kawedana A —salah satu bekas wilayah Karesidenan B— dengan satu tujuan, bersembunyi dari kejaran orang-orang berpakaian hijau.
Di ujung pematang sawah dekat selokan, tatkala Tuanku menghentikan langkah kakinya dan berdiri pada satu rumah reyot yang pintunya telah termakan usia. Kulihat Tuanku berdiri terpaku sembari mengatur napasnya yang tersengal-sengal, begitu capai lari dari kejaran orang-orang berpakaian hijau. Sesaat kemudian Tuanku menggedor-gedor pintu reot yang ada di ujung pematang sawah dekat selokan.
“Tolong, sembunyikan saya,” sahut Tuanku kepada pemilik rumah itu, tetapi pemilik rumah itu bergeming tak berkenan atas permintaan Tuanku, kemudian membanting pintu rumah itu, “tolonglah saya, kumohon.” Tuanku memelas sembari menggedor-gedorkan pintu, memelas agar diberikan perlindungan. Namun sayang, pemilik rumah itu acuh atau lebih tepatnya takut dicap merah.
Hati Tuanku remuk-redam, mendapati perlakuan demikian, ia yang dahulu dihormati karena telah berjasa membantu petani-petani di hampir seantero Kawedana A, kini diacuhkan, dicampakkan oleh orang-orang yang pernah memelas, bersimpuh meminta bantuan. “Dasar ular, culas!” Tuanku merutuki nasibnya, dipandanginya rumah reyot itu dan kemudian berlalu meniggalkan dengan perasaan dongkol.
Kini kembali, kami sedari malam hingga fajar berlari menyusuri satu kampung ke kampung lain, satu desa ke desa lain, satu pematang sawah ke pematang sawah yang lain, demi satu tujuan, mempertahankan hidup dari buruan orang-orang berpakaian hijau.
“Kurasa kita aman sekarang,” sahut Tuanku, kemudian berbaring di atas gundukan tanah sejenak melepaskan penat, “untunglah mereka tidak melihat kita bersembunyi di balik semak belukar ini.” Tuanku kemudian memejamkan mata.
Ketika Tuanku masih terlelap, perlahan namun pasti terdengar sebuah langkah kaki, kulihat dari balik semak belukar beberapa orang berpakaian hijau sedang menggiring tujuh pemuda kampung, berjalan menapaki pematang sawah yang tak jauh dari sungai kecil yang mengairi sawah itu. Mereka bertujuh berbaris membelakangi orang-orang berpakaian hijau.
Salah seorang dari mereka kemudian menghunuskan pedang, dan mengangkatnya ke udara, dari jarak tempatku mengintip terdengar jelas suara yang lantang.
“Berdasarkan maklumat tak tertulis, tuan-tuan sekalian dituduh sebagai simpatisan merah, oleh karenanya dijatuhi hukuman tembak.” Pedang yang terhunus di udara kini telah terhunus menghujam bumi, suara tembakan terdengar menyeruak ke udara, dor!
Terlihat jelas di mataku, ke tujuh pemuda itu meregang nyawa dan berjatuhan —terjun bebas— ke sungai kecil yang mengairi persawahan itu.
Sontak, suara itu membuat Tuanku terjaga, dengan sigap ia berjalan penuh kehati-hatian, mengintip dari balik semak belukar, nampak keringat dingin mengcur membasahi pelipisnya, “sebaiknya kita lari cepat,” hanya itu yang diucap Tuanku, kami pun bergegas meninggalkan tempat itu, menyusuri pematang sawah, mencari tempat perlindungan, “entah sampai kapan pelarian ini akan berakhir.” Sahut Tuanku.
Sudah empat hari kami berlari dari kejaran orang-orang berpakaian hijau, Tuanku pun nampak kelelahan, wajahnya kini telah tirus bin kurus, matanya menapakkan kelelahan luar biasa. Tuanku sejenak berhenti di salah satu rumah reyot yang berada di pinggiran kali, dipandanginya pintu kayu yang sudah nampak lusuh itu, jemari lemah Tuanku mengetuk pintu itu, sedetik, dua detik, tiga detik, “tidak ada jawaban,” kembali Tuanku mengetuk pintu itu, sedetik, dua detik, tiga detik, tak ada jawaban. “Sebaiknya kita masuk saja.” Kami pun memasuki rumah reyot itu, atapnya berdaun rumbia, lantainya bertegel tanah dan tidak ada seorangpun penghuninya, hanya ada kasur lusuh, berdebu, dan berbau apek.
Malam itu, diputuskan untuk beristirahat sejenak, cukup lelah dan payah berlari dari kejaran orang-orang berpakaian hijau.
Kini kami berada di belakang rumah reyot itu, ada halaman luas yang berhubungan langsung dengan kali, di sebelah kiri halaman belakang rumah ditumbuhi pepohonan bambu, sedangkan di sebelah kanan rumah ditumbuhi beberapa pohon mangga berdaun lebat nan rindang, dari balik pohon mangga itu terhampar persawahan yang cukup luas, namun sudah tak terawat.
Tuanku menyulut api, membakar kayu dan dedaunan yang berserakan di sekitaran halaman belakang rumah reyot itu, rasa lapar menjejali, rasa dahaga menggerogoti kerongkongan.Tuanku dengan langkah penuh kehati-hatian menuju kali yang ada di belakang rumah, dengan perlatan dapur yang ditinggalkan si empuhnya rumah, Tuanku menggayung air yang cukup keruh dan memberikan kepadaku, “minumlah” sahutnya, tanpa babibu menjalarlah air itu membasahi kerongkongan. Setidaknya malam itu ada sedikit kesejukan dan kesyukuran menjelajahi jiwa, tuhan masih memberikan kekuatan.
Fajar belum menyingsing sempurna, sayup-sayup terdengar suara langkah kaki yang bergemertak, menyeruak, memekakan pendengaran. Saya terbangun, dan samar-samar kulihat Tuanku kini telah bersimbah darah, mataku terbelalak melihat pemandangan itu popor senjata mendarat di pelipisnya. Tuanku hanya meringis menahan kesakitan. Kucoba untuk membantu Tuanku, namun sayang, orang berpakaian hijau itu terlalu kuat untuk kutandingi. Ia memegangi seluruh tubuhku, saya berontak! Ia pun menguatkan cengkramannya, membuatku sesak, ada pedang yang tak terlihat menghunus tajam menembusi hatiku, pilu tak bisa berbuat apa-apa. Orang-orang berpakaian hijau menyeretku kemudian memasukkanku ke dalam penjara yang terbuat dari bilah-bilah bambu, entah kapan mereka membuat penjara itu. Kakiku diikat, aku meringkuk ketakutan.
Tuanku hanya menatapku nanar, matanya berubah merah, wajahnya merah, tubuhnya merah bermandikan darah yang bewarna merah.
“Dasar Merah!” Begitulah makian yang dilontarkan orang-orang berpakaian hijau. Tuanku diseret seperti bangkai binatang, ia tak melawan, tak meringis kesakitan lagi, entah mungkin Tuanku sudah meregang nyawa ataukah terlalu lelah untuk menahan siksaan. Orang-orang berpakaian hijau itu kemudian membuang tubuh Tuanku ke kali di belakang rumah. Kini, Fajar telah menyingsing sempurna.
Syahdan, tibalah giliranku menjemput ajal, sebilah parang telah berada di leherku, saya sudah pasrah menyambut ajal. Akan tetapi, kematianku ini tidak sia-sia, karena cerita ini sudah kukisahkan kepadamu kawan dan berjanjilah jangan menceritakan kisah ini kepada orang-orang berpakaian hijau, nanti kamu diculik.
Sejenak algojo yang akan mengeksekusiku sedang merapalkan suatu mantra, sebilah parang itu kini semakin dekat di urat nadi leherku, sejurus kemudian darah mengucur deras dari kerongkonganku yang telah digorok. Tubuhku kejang-kejang, tak kurasakan lagi tarikan nafas, namun masih kurasakan algojo itu berucap.
“Setidaknya, pagi hari ini kita makan ayam bakar.”

My Earth

Namanya Meli. Dia kini duduk di kelas 8, di sebuah sekolah ternama di kotanya. Dia tidak terlalu menyukai hal-hal realistis yang membuatnya harus berfikir sampai jenuh. Bahkan dunia khayalnya kadang-kadang melebihi batas.
Meli hanya suka satu materi pelajaran. Yaitu tentang Antariksa, seperti: tata surya, matahari, galaksi, dan yang sejenis. Cita-citanya bahkan ingin menjadi astronot. Dunia antariksa selalu membuatnya penasaran.
Malam itu, Meli sedang duduk di gazebo yang ada di samping rumahnya. Dia sedang mengerjakan PR di situ. Malam itu bulan purnama. Bintang-bintang bertaburan di langit. Indah sekali. Meli memandang ke atas dan melihat semua itu.
Sebuah benda berwarna merah nampak seperti bintang ikut menemani bulan. Bukan, itu bukan bintang. Itu planet Mars. Ada lagi benda lain yang ia lihat dan tampak aneh meskipun samar-samar. Sebuah benda langit yang nampak bercincin.
“Saturnus?. Apa? aku dapat melihatnya” katanya girang.
Kedua planet itu tampak lebih besar dan terlihat jelas. Meli melihat sebuah benda lagi yang terbang dan cukup panjang. Sepertinya itu komet.
Meli sangat girang. Ia dapat melihat benda-benda itu. Saat Meli hendak masuk ke dalam rumahnya, sebuah benda berwarna biru muncul. Sejenis planet. Bumi. Tidak! Dia ada di Bumi, bagaimana ia bisa melihat bumi yang sedang ia pijak itu ada di langit?. Benda itu semakin membesar dan mendekat ke arahnya. Dia tidak bisa pergi ke manapun. Kakinya seperti tertancap ke tanah. Benda itu semakin mendekatinya.
“Hah…? Tuhan, tolong aku” ucap Meli merapatkan kedua tangannya. Namun semakin benda itu mendekati Meli, semakin mengecil ukurannya. Dan akhirnya benda itu jatuh di dekat kaki Meli dan hanya sebesar genggaman tangan saja.
Benda itu bulat. Tidak. Tengahnya agak menggembung. Warnanya biru. Persis seperti Bumi. Meli mengambilnya dan mengamatinya. Langsung ia bawa ke dalam rumah.“MELI BANGUN SUDAH SIANG!!” Bunda Meli berteriak membangunkan Meli.
“Ya Bun, ini Meli bangun” Meli segera pergi ke kamar mandi dan berpakaian rapi bersiap untuk ke sekolah. Kemudian ia ingat sesuatu. Benda itu. Dia membuka sebuah kotak. Benda itu ada di situ. Ia tidak bermimpi!. Ia membawanya dan segera berangkat sekolah.
Saat istirahat, ia pergi ke gudang. Membuka kotak itu. Benda itu bersinar. Terang sekali.
“Apa ini planet kembaran bumi? Ah aneh!”
Meli menemukan belahan dalam benda itu. Ia membukanya. Susunannya sama seperti bumi. Di situ ada tulisan “Bumi, Bumi, Bumi. Selamatkan Bumi”.
Meli membaca tulisan itu. Tiba-tiba berdiri seseorang di belakangnya. Orang itu mirip sekali dengan Meli.
“S..siapa kau?” tanya Meli.
“Namaku Viki. Aku adalah kembaranmu. Aku berasal dari planet kembaran Bumi. Bumi ini sudah tua. Kalian para manusia selalu merusaknya. Dan planetku juga ikut menanggungnya. Kami membenci kalian” katanya. Meli sangat takut.
“Apa maumu?”
“Kau harus perbaiki planetmu. Entah bagaimana caranya. Jika bola itu tetap seperti itu ukurannya, kau tidak melakukan perbaikan itu. Jika bola itu mengecil, usahamu berhasil. Bola itu akan mengecil seiring usahamu. Jika bola itu lenyap, maka kau berhasil. Jika dalam 1 bulan bola itu masih ada, kalian akan menanggung masalah” kata Viki kemudian menghilang.
Sejak saat itu, Meli mulai menjaga Bumi. Menjaga kebersihan, tidak menggunakan AC secara berlebihan, tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon, bahkan ia juga mengajak dan memberi usul kepada kepala sekolahnya untuk melakukan kerja bakti setiap hari Jum’at. Bola itu juga perlahan mengecil.
“Tapi, apa aku bisa? Bumi ini luas dan aku hanya melakukannya di sekitarku” gumam Meli.
“Kau melakukannya dengan baik. Satu juga tidak masalah daripada tidak ada. Tapi Meli, waktumu kurang 12 jam lagi dan bola itu masih ada” kata Viki.
“Apa yang harus kulakukan?” tanya Meli.
Namun Viki menghilang. Meli memikirkan hal itu semalaman. Tidurnya pun tak nyenyak. Bahkan ia tidak bisa tidur. Akhirnya ia berfikir.
“Bumi tidak hanya mendapat bahaya dari dalam, tetapi juga dari luar. Bisa saja tertabrak planet lain, atau hujan meteor. Mungkin itu. Ya aku harus berdoa kepada Tuhan” katanya. Ia akhirnya mulai berdoa dan bergegas tidur.
“Meli kamu mau seharian tidur hah?” Bunda membangunkan Meli.
“Bunda, aku baru tidur. Semalam aku tidak bisa tidur” kata Meli.
“HAH? Kamu tidur sehabis isya kemarin. Bunda membangunkanmu tapi tak bisa. Sampai ayahmu yang menggendongmu ke kamar ini” kata Bunda
“Hah?”
“Sudah, cepat! Sudah jam 8 dan anak gadis sepertimu baru bangun?”. Bunda meninggalkan Meli.
“Jadi, itu hanya mimpi?” gumam Meli.
Ia bergegas membuka kotak itu. Ada selembar kertas bertuliskan “TERIMAKASIH MELI, TELAH MENJAGA BUMI. SAMPAI JUMPA. Viki”
Meli semakin bingung. Dia akhirnya tak menjadikan itu masalah. Justru membuatnya semangat untuk menjaga Bumi.

Sebuah Cerita dari Sepasang Mata

Merah pada tangkup bibirnya boleh jadi tiada bergeming. Namun kelopak retinanya, lihatlah. Atau lebih tepatnya, dengarlah. Ia tengah bercerita. Tengah mengibaratkan dirinya sebagai sepasang kekasih. Dalam hal ini mungkin aku dan engkau. Iya kah? Tentu saja tidak. Sebab kita bukan kekasih, seperti kata anakmu. Namun tetap paksalah kepalamu untuk mengangguk, demi sedikit meletakkan rasa bahagia pada sepasang mata yang lain, mataku. Sekali ini saja di hari pernikahanku. Dengan adikmu; Han.
Adikmu yang pendiam dan memiliki hati yang lembut ini juga memiliki sepasang mata yang tengah bercerita dengan ceritanya sendiri. Hanya saja telingaku tak menjangkau suara dalam sepasang matanya. Ada sekat di sana. Namun sebagaimana aku, aku tetap masih bisa menyimpulkan sesuatu dari beberapa tafsiran. Barangkali lelaki yang hari ini telah resmi jadi suamiku ini tengah bercerita lewat kedua matanya tentang kebahagiaannya telah menikahi perempuan yang begitu dicintainya; aku. Atau barangkali tentang rasa ketidakenakan dalam debar jantungnya saat melihat sepasang mata kakaknya yang duduk khidmat di kursi tamu bersama Lui, anaknya yang kini berusia lima tahun. Tentang kecemasan yang boleh jadi akan kambuh di tengah-tengah pernikahan kita dan tentang sedih yang lebih mirip perasaan sesal tiada akhir telah menikahi mantan kekasih kakaknya sendiri. Atau tentang pertanyaan panjang lebar yang memenuhi ruang kepalanya mengenai apakah kelak aku akan mencintainya juga? Barangkali. Aku tersenyum. Sebuah ekspresi yang memang paling pantas dipasang pada mempelai pengantin yang tengah dipajang. Bukankah begitu? Di situ akan timbul pertanyaan baru, kepada siapakah aku tersenyum. Semua orang mungkin tidak akan melontarkan pertanyaan semacam itu karena mereka tahu aku tengah tersenyum dengan pernikahanku, dengan bayangan masa depan rumah tanggaku. Dengan suamiku. Namun kau pasti membatinnya diam-diam. Begitu yang kutangkap dari pembicaraan sepasang matamu. Ia bercerita dengan nada sedikit meliuk, nada orang bertanya. Apakah benar dia tersenyum padaku? Setidaknya itu amat kelihatan dari caramu membalas senyumku dengan sungging yang ragu-ragu. Ah … Bi, kau tampak lucu dengan gelagat seperti itu. Mengingatkanku dengan peristiwa dua belas tahun lalu saat kita masih duduk di bangku SMP. Kau dengan kacamatamu begitu gelagapan jika mendapatiku menanyakanmu membawa pulpen berapa biji sebab aku hendak meminjam. Kau gagap mengangguk. Tergesa mengambil pulpen dalam tas punggungmu dan gemetar memberikannya padaku. Yubi … jika aku mengingatkannya padamu pasti kau akan tertawa geli. Mengganggap begitu mengerikannya dirimu jika berhadapan dengan perempuan saat sekolah dulu.
Setidaknya begitulah ekspresimu saat tujuh tahun setelah lulus SMP kita berjumpa kembali di sebuah seminar pada kampus kita. Ah, betapa yang paling mengagumkan adalah karena kita baru tahu kuliah dalam satu tempat yang sama setelah bertahun-tahun kita berada di sana. Tidak apa-apalah. Jodoh masih meluangkan dirinya untuk kita sedikit bercerita satu sama lain.Jodoh?
Aku sempat berharap engkau menjadi jodohku. Namun belum saja harapan itu menjadi bulat, sebuah nama sudah terang-terangan menyingkirkanku dari harapan konyol itu. Aku tak jadi berharap. Tapi tak apa-apa. Sebab sudah kubilang, itu belum bulat. Harapanku masih dalam bentuk permainan tebak-tebakan antara kepalaku dan kertas-kertas dalam diari. Sungguh, ketika kau bilang kau hendak menikah dengan Sauma dalam waktu dekat, aku tidak merasa patah hati. Malah cenderung hampir meloncat karena saking girangnya mendengar kabar itu. Perasaanku bercampur-aduk dengan kegelian saat mengingat aku hampir berencana untuk mencintaimu.
Kejadian ngerinya berlangsung setelah aku berjumpa lagi denganmu, lima tahun setelah kau menikah. Saat itu di sebuah taman kanak-kanak. Tempat Lui belajar di sana. Kau bermaksud menjemput Lui. Tanpa sengaja bertemu denganku yang kebetulan sebagai guru Lui. Kalau kau perempuan mungkin aku sudah memelukmu, Bi. Tapi kau lelaki, dan aku harus menjaga perasaan Lui dan anak didikku yang lain.
“Jadi kau Papa Lui, Bi?”
“Jadi kau Guru Lui, Fah?”
“Hahaa.” Kita tergelak kompak.
Berpasang-pasang mata anak didikku mecuatkan pertanyaan. Segera aku mengerti, aku langsung bungkam dan menyuruhmu ikut bungkam. Tapi kita terus tertawa setelahnya. Sampai aku tak sadar sudah berada dalam rumahmu dan merasakan ada yang ganjil di sana.
“Istrimu kemana, Bi?”
Belum kau menjawab, Lui yang kala itu berada di sampingku langsung terbirit menuju kamarnya. Ada apa sebenarnya?
“Sauma meninggal tujuh bulan lalu,” aku hendak bertanya kenapa, namun urung.
Aku tak tega menatap wajahmu yang lusuh mendadak begitu. Tapi kau malah menjawab pertanyaanku yang tak terdengar.
“Sauma terjatuh di kamar mandi. Ia keguguran anak kedua kami yang berusia lima bulan sudah. Namun darahnya kelewat banyak yang keluar karena lambat dapat pertolongan. Seutuhnya salahku. Waktu itu aku tidak ada di rumah. Ketika pulang aku mendengar Lui menangis histeris sambil terus berteriak darah. Aku–” Cukup, Bi. Cukup.
Aku menghentikannya karena kutahu kau tak pernah sanggup melakukannya. Aku menatapnya lekat-lekat lantas memeluknya begitu erat. Aku sudah tak peduli jika pada kenyataannya Yubi adalah lelaki. Sebab yang kutahu, dia adalah seorang teman yang sedang membutuhkan ketenangan. Maka aku melakukannya. Aku pun melepaskan pelukanku dengan hati-hati begitu mengingat Lui sedang meringkuk dalam kamarnya. Aku segera berlari. Dan pemandangan yang kulihat adalah Lui sedang pulas tertidur sambil memeluk boneka koala sebesar dirinya.
“Itu pemberian Sauma di hari ulang tahunnya satu minggu sebelum ia pergi.” Ujar Yubi di belakangku.
Sebagai seorang guru, aku bisa memahami bagaimana perasaan Lui. Aku pun mendekatinya dan mulai mengusap-usap rambutnya. Mengusap air matanya yang sudah kering di kedua pipi merahnya.
Lima bulan kemudian Lui ulang tahun. Ia merayakan pestanya di rumahnya, sangat sederhana. Hanya aku, Yubi, Han. Hanya empat orang di sana. Namun Lui begitu haru dan bahagia. Ia memeluk kami. Ia meniup lilin lalu makan kue pelangi. Lui cantik sekali saat itu. Dengan kostum peri warna putih. Yubi sebagai papa Lui berkata akan memberi kejutan kepada Lui. Lui menunggu sangat antusias. Dan jauh yang dibayangkan, Lui ternyata tak menyukai kejutan itu. Ia sangat marah dan membanting kue ulang tahunnya. Ia menangis dan berlari keluar pintu. Ke luar rumah. Ke jalan raya. Kami bertiga spontan mengejarnya, namun segalanya sudah terlambat. Sebuah bus menabraknya semata-mata. Kami lemas seketika sedang truk yang menabrak melaju tanpa peduli. Yubi panik dan menyuruh Han memanaskan mobil. Kami segera menuju rumah sakit. UGD. Syukur, Lui masih dapat diselamatkan. Tidak parah juga. Hanya ada pembengkokan tulang pada kaki kirinya. Memaksanya untuk diperban.
Genap dua hari, Lui siuman. Ia tersenyum melihat pamannya; Han. Juga saat melihat papanya. Namun ketika melihatku, rona kemarahannya masih tampak. Lui memang tampak sudah terlalu bernalar di usianya saat ini. Ia bersungut. Menarik Yubi dan membisikan sesuatu di telinganya. Aku dan Han masih bisa dengar tapi.
“Kejutan papa kemarin buat paman Han saja, Pa. Lui sayang Bu guru tapi Lui juga sayang mama. Lui tidak mau mama sedih di sana. Lui sayang Papa.”
Bu guru buat paman Han saja. Bagaimana bisa? Kalau aku tak dapat menikahi Yubi, yah sudah! Aku tak akan menikahinya apalagi menikahi adiknya. Tidak mungkin. Tapi, tapi, apa kabar bayi dalam perutku? Ia memang masih lima minggu, tapi bulan-bulan akan tetap berganti sampai sembilan bulan nanti. Perutku akan tumbuh dan tanpa seorang suami. Aku merasa ngeri. Memang kesalahan besar telah melakukan hubungan gila tanpa sebuah ikatan. Tapi semua telah terjadi. Berkali-kali. Bagaimana?
Sepasang mata di kursi tamu itu terus bercerita. Meski samar dan cenderung tidak jelas. Tapi aku masih bisa dengar. Ia berbinar dengan kilau yang retak. Aku mengerti, pemilik sepasang mata itu masih menyimpan cinta yang besar kepada perempuan yang telah mendahuluinya terbang ke langit. Namun ia juga mencintaiku, sebesar mencintai bayi dalam kandunganku, sebesar mencintai Lui yang berada di sebelahnya, sebesar mencintai Sauma. Aku mengerti, sebab sepasang mata itu telah menceritakan segalanya. Aku juga mencintai, sejak lama. Sejak kau masih lugu dengan seragam putih biru. Sejak kita berjumpa lagi di acara seminar itu, sejak kau berjanji akan menikahiku dan memberi nama bayi yang kukandung Ihbi. Maknanya Ihfah dan Yubi. Bisa untuk perempuan atau lelaki. Tapi, apa kabar dengan Han? Aku juga harus menjaga perasaannya seperti aku menjaga seluruh perasaan murid-muridku yang berjumlah tiga belas. Terlebih dia begitu pendiam, begitu lembut. Terlebih dia sudah secara terang-terangan mau bersumpah menerimaku sebagaimana adanya. Aku yang tengah hamil anak kakaknya sendiri. Han mencintaiku, sejak SMP juga. Dia lembut sampai tidak ada murid lelaki yang segan bermain dengannya. Dia mengagumiku sejak aku menjadi Pengurus OSIS di SMP yang mengaturnya dan adik kelas lain saat sedang latihan baris berbaris, saat pramuka. Dia menganggapku satu-satunya orang baik yang dikirim Tuhan untuk mengajaknya bermain. Dia mengikutiku hingga ke SMA. Hingga kuliah. Han menyimpan semuanya dengan rapi dalam lemari bernama hatinya. Hingga kemarin, di waktu Lui menjodohkan kami, Han ikut meyakinkanku. Ia berkata bahwa ia masih normal. Walau pendiam begitu tapi ia masih lelaki. Bisa melindungiku dan mengayomiku. Menjadi pemimpin dan menanam benih-benih dalam perutku. Ia meyakinkan dengan sepasang matanya. Aku harus mencintainya bagaimana pun. Cinta Han yang sedemikian itu padaku sejatinya sangat nisbi di dunia. Maka pelan-pelan, sepelan bagaimana pun, aku harus belajar mencintainya.
.
Pelan-pelan, Bi. Semoga kau akan menemukan Sauma baru yang bisa kau, sekaligus Lui mencintainya. Sampai kalian terbang ke langit menyusul Sauma kelak. Kelak, Bi.