Sudah lima menit ia menatapi percikan api yang timbul saat mesin las menyentuh pipa besi. Memerhatikan ayahnya yang sedang bekerja.
“Kamu nggak main, Nak?” tanya si Ayah, sambil terus mengelas.
Anak itu terdiam. Masih melongo memperhatikan percikan api yang ia anggap indah. Sampai akhirnya si Ayah berhenti sejenak, dan menatap anaknya. Si anak menatap balik.
“Nggak, Yah.”
Ayah mengangguk, lalu melanjutkan pekerjaannya.
“Teman-teman lagi liburan, ada yang ke Bali, ke Bandung, ke mana-mana,” lanjut anak itu.
“Jadi nggak ada temannya ya?”
“Ada. Ayah.”
“Jadi nggak ada temannya ya?”
“Ada. Ayah.”
Ayah tersenyum kecil. Lalu si ayah bertanya, “Kamu mau pergi liburan?”
“Ke mana?”
“Ke mana ya? Yang pasti nggak ke Bali, di sana mahal-mahal makanannya. Juga nggak ke Bandung, di sana macet. Ngapain kan liburan malah macet-macetan.”
“Ke mana?”
“Ke mana ya? Yang pasti nggak ke Bali, di sana mahal-mahal makanannya. Juga nggak ke Bandung, di sana macet. Ngapain kan liburan malah macet-macetan.”
Si anak tidak terlalu mendengar kata ayahnya barusan, ia hanya melamuni percikan-percikan api dari mesin las.
“Lagipula, kamu baru 10 tahun. Kalau ayah ajak kamu ke mana-mana di umur segini, nanti kamu juga lupa waktu besar. Nggak berkesan,” kata si Ayah.
Kemudian si Ayah menoleh ke arah anaknya, yang sedari tadi melamun. “Kamu lihat apa?”
“Itu,” kata si anak, “bunga api.”
“Bagus ya?”
“Bagus, kayak waktu tahun baru.”
“Berarti tiap hari di bengkel itu tahun baru dong.”
“Tapi nggak ada terompetnya…”
“Itu,” kata si anak, “bunga api.”
“Bagus ya?”
“Bagus, kayak waktu tahun baru.”
“Berarti tiap hari di bengkel itu tahun baru dong.”
“Tapi nggak ada terompetnya…”
Kemudian ayah melanjutkan pekerjaannya yang hampir selesai. Sedangkan si anak masih menikmati percikan-percikan apinya. Sampai akhirnya besi itu terlihat bentuknya. Si ayah memasangkan kerangka besi itu dengan ban dan tempat duduknya, dan jadilah sepeda baru.
“Ini, coba naik,” ucap si Ayah.
“Nanti jatuh,”
“Nggak papa, justru pengalaman ini yang bakal kamu ingat sampai kamu besar.”
“Nanti jatuh,”
“Nggak papa, justru pengalaman ini yang bakal kamu ingat sampai kamu besar.”
Lalu si anak duduk di atas sepeda, dan mulai mencoba mengendarainya ke luar. Di sana ada anak-anak lain yang juga sedang bermain sepeda.
Inilah liburan sederhana mereka. Karena bahagia itu harusnya sederhana. Hanya perlu kerangka besi, ban, ayah dan anaknya, serta beberapa bunga api.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar