Sabtu, 14 Januari 2017

Pemahaman Sederhana

Kini malam begitu cepat berganti siang, semenjak dunia benar berputar malamku terasa sangat singkat tak cukup puas kunikmati tidur untuk beberapa saat saja.
Saat kami masih tinggal di komplek perumahan elit, tiap hari terasa menyenangakan dan tak terbersit sedikitpun hidup di jalan degan tidur di atas koran bekas. Semua terjadi dengan singkat cerita dan pemahaman yang cukup dimengerti, dengan dasar bahwa hidup tidak selalu di atas bahwa dunia pasti berputar.
“Bangun de, ayo kita cari makan semoga bisa beli nasi sama tempe ya!”
“Iya kak, dari kemarin kita makan nasi sama garam terus, bosan kak!”
“Jangan ngeluh ya de, semua sudah ada yang merencanakan, jika kita ngeluh nanti rencana indah tuhan diundur lagi waktunya gimana dong?”
“Jangan kak, bilangin aku gak ngeluh sama sekali, jangan rubah waktu indah yang sudah tertulis takdir kak”
“Iya de, ayo bawa kaleng buat kita ngamen sama peralatan kita mungut sampah!!”
“Iya kak!!” Sudah hampir 2 tahun mereka cukup hidup dengan sederhana menjadi pengamen dan pemungut sampah setelah petang mereka pulang dan menyuruh adik lelakinya itu tidur, setelah tidur kakaknya pergi kembali untuk memungut sampah atau menjadi pengamen, mereka beryukur jika sehari sudah bisa makan 2 kali, itu berarti mereka dapat uang sekitar 15 ribu hasil yang jarang didapatkan. Dengan 15 ribu itu bisa beli nasi 2 bungakus air 2 plastik dan dengan tempe 2 potong.
Saat malam dimana ia bermimpi tentang betapa nyenyak tidur di atas kasur empuk, ruangan yang begitu nyaman, pagi dengan sarapan yang tersedia di meja, sekolah di antar jeput semua dengan baik dan mimpi itu buyar ketika suara petir terdengar begitu dekat di telinga dan adiknya yang merengek ketakutan.
Melalakukan kegiatan itu tiap hari membauat mereka sangat mengerti bagaimana harus menghargai hidup,
Di suatu siang suara teriakan adiknya memecah nyayian pengamen itu dan langsung berlari ke kerumunan, saat sampai disana kerumunan itu hanya orang orang kosong dengan tak ada korban yang tergeletak atau masalah yang ia pikirkan. Dia pun menghela napas lega, dan bersyukur
“Dika, dika” dengan berlari dan nafas sesaknya
“Apa sit kau mengagetkanku?”
“Apa kau tadi menghampiri kerumunan itu?”
“Iya, aku kesana? Kenapa? Tak ada apa pun disana saat aku lihat?”
“Adikmu hampir tertabrak mobil dik, tapi belum sampai dia tertabrak dia keburu pingsan, adikmu dik. Harry!”
“Lalu kemana dia pergi, apa seseorang mengatakan sesuatu padamu?”
“Iya orang itu bilang akan membawa adikmu ke rumah sakit teratai di dekat toko yang biasa kita mungut sampah itu dik?”
“Baik wan, terimakasih ya, aku harus segera menyusul adikku..”
Aku tak bisa berkata kata saat perjalanan ke rumah sakit namun saya sangat kaget melihat adikku tertawa lepas bersama orang itu, Aneh dalam benakku..
“Harry apa kau tak apa? Siapa dia ry kenapa kau begitu nyaman bersamanya?”
“Apa ini dika, kakakmu harry?” dengan suara lembut dan snyman menawan pria berjas hitam itu terlihat tampan mengingatkan pada ayahku dulu
“Kenapa kau mengenalku dan adikku?”
Dia menghampiri dan memeluk, menangis dan meminta maaf
“Maaf kenapa? Siapa anda?”
“Saya, anton dik, ayahmu sempat meneleponku waktu saya masih di luar negeri dia mengirim foto kalian dan menyerahkan hak asuh kepada saya, ayahmu juga menyerahkan saham yang masih tersisa sebelum dia bangakrut padaku, aku kakak dari ayahmu dik”
Dari awal pertemuan kami di rumah sakit kita hidup bersama dengan istri dari paman yang menyayangi kami seperti anaknya, mulai sekolah kembali dan menjalani hidup seperti keluarga
“Adik ingat dunia akan terus berputar, kita harus siap kapanpun kita jatuh dan kembali ke bawah!”
“Iya kak!”

Jangan Biarkan Indonesia Terbelah

Namaku Shavia. Aku salah satu perempuan yang sangat menjaga lingkungan sekitarnya. Di sekolah, aku mengikuti Club pencinta Alam. Aku bersekolah di Student High school duduk di kelas 2 SMP. Sahabatku bernama Chuck, dia mengikuti Club Dance. Sayangnya, dia sekarang sangat lesu dan malas mengikuti Dance. Ia berniat mengikuti Club Tinju.
Di rumahku, banyak tanaman hijau yang kurawat dengan Hati-hati agar Tanaman tidak Muntah (kebanyakan Air). Adikku, Shania. Juga ikut membantu Menyiram tanaman dan Memberi pupuk. Suatu hari, aku dan Chuck sedang berjalan pulang ke rumah. Kami melihat seseorang Mencabut tumbuhan hijau yang sangat indah “hei, jangan diperlakukan seperti itu!” seruku
Anak itu menoleh “memang kenapa? Apa masalahmu?” tanya Dia enteng
aku tak bisa menahan amarahku dan memukul dagunya dengan keras “Aww… apakah kau gila? Aku ini Anak gubernur” keluhnya
“Aku tak peduli kau anak siapa! Aku memang bukan anak dari gubernur, menteri atau presiden. Tapi aku anak Seorang Pegawai biasa. Aku selalu diingatkan untuk menjaga kelestarian alam. Jika kita merusak kelestarian alam. Semua hewan akan punah. Tumbuhan hijau tak lagi hijau. Banjir akan sering melanda kita. Jika banjir, tumbuhan tidak akan bisa tumbuh. Makanan akan menipis” jelasku panjang lebar, Anak itu dan Chuck terpana melihat Penjelasanku
“Kau hebat ya, oh iya. Kenalkan namaku Silvy. Aku senang mendengar penjelasanmu. Aku bangga rakyat indonesia yang mencintai budaya, kelestariannya dan lain-lain. kita juga harus menjaga Kebudayaan kita. Jangan sampai masyarakat indonesia terbelah karena diiming-iming Negara lain. Apakah rumahmu di perumahan casablanca? Mau berangkat bareng?” terang Silvy
“dengan senang hati, Ayo” jawabku sambil mengenggam Tangan Silvy
“wah, seru juga ya ikut club pencinta alam. Aku pindah ah” kata Chuck
“hahahha… kau ini” tawaku dan kami bertiga bersahabat selamanya

Bocah di Sudut Pasar

Aku sekarang duduk di bangku kelas IX SMP tapi Ayah masih juga belum menambah uang sakuku. Kadang aku kesal, ketika melihat teman-temanku membeli aksesoris cantik yang harganya cukup mahal. Aku kesal karena uang sakuku tak cukup untuk membeli aksesoris yang sejenis. Satu-satunya yang bisa aku lakukan hanya menghela napas menahan kesal.
Gerutuanku ini membuatku merasa gerah padahal hari ini tidak terlalu terik. Ayah tidak mengerti perasaanku. Ibu pun demikian. Kulangkahkan kakiku meninggalkan gerbang sekolah dan teman-temanku yang sedang asyik memilah dan memilih aksesoris di sebuah toko aksesoris di depan sekolah. Kenapa toko itu harus berada di depan sekolahku? Hah! Aku semakin kesal! Aku sadar jika aku bergabung dengan mereka, menyiksa mata dan batinku melihat aksesoris mahal yang tidak bisa aku beli, maka aku akan membutuhkan hati yang baru karena yang satu ini akan hancur, tentunya. Bisa jadi aku iri pada mereka. Tapi apa yang harus aku lakukan demi menambah uang sakuku? Baiklah! Aku berniat merajuk ketika sampai di rumah nanti agar Ayah menambah uang sakuku.
Langkah demi langkah kutiti di jalan yang lebarnya tak seberapa ini. Sampai akhirnya Nida dan Fatma, teman sekelasku, dengan gagahnya lewat di sampingku mengendarai sepeda motor. Lagi-lagi, aku merasa jengkel dengan hidupku. Kenapa hanya aku yang harus berjalan kaki ke sekolah dengan jarak yang cukup jauh? Sedangkan anak lain seusiaku sudah diijinkan dan diberikan sepeda motornya sendiri? Aku melewati jalan yang melintang sambil menggerutu seperti ibu-ibu yang baru saja pulang dari pasar saat harga sembako sedang melambung tinggi. Aku terlalu sibuk membenci hidupku sampai aku hampir lupa bahwa aku diberikan tanggung jawab dari kelompokku untuk membeli beberapa kebutuhan untuk praktik Biologi besok. Aku mengurungkan niatku untuk langsung pulang ke rumah.Di persimpangan jalan, aku berbelok ke arah pasar. Sebenarnya aku tidak terlalu suka pergi ke pasar. Terlalu ramai! Tapi mau bagaimana lagi? Matahari sudah menikuk menandakan siang akan berganti sore tapi pasar ini masih ramai dilancongi para pahlawan rumah tangga dengan berbagai kostum. Mulai kostum ala istri ulama sampai kostum ala istri pemain bola. Aku baru saja memasuki halaman depan pasar tapi di pikiranku sudah terpenuhi bisikan-bisikan jahat untuk mengurungi niatku. Beberapa sepeda motor terparkir rapi memenuhi halaman depan pasar yang difungsikan sebagai lahan parkir. Aku juga melihat beberapa petugas parkir yang wajahnya tak asing bagiku. Dari jauh, kulihat seorang bocah kecil dengan kaos biru dan celana merahnya berdiri bersandar di dinding sebuah toko sembako, di sudut pasar. “Seusia adikku”, kataku dalam hati. Dia menatap kosong ke bawah, pada sepasang sendal lusuh yang dikenakannya. Aku pikir tidak ada yang salah dengan sendalnya. “Hanya lusuh, masih bisa digunakan”, sekali lagi aku berkata dalam hati. Sesekali ia menggerakkan kakinya, menggesek-gesekkan sendalnya ke lantai. Aku melangkah lebih dekat. Kulihat seorang ibu melintas di hadapannya. Mendadak, bocah itu meraih plastik belanjaan yang sejak tadi dijinjing oleh ibu tersebut. Terkejut, seketika ibu tersebut menarik plastik belanjaannya dan menatap sinis ke arah bocah berkaos biru itu. Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Mengapa bocah itu menarik plastik belanjaan itu?
Mengikuti rasa ingin tahuku, aku mendekat. “Im, sini Im!”, suara seorang ibu paruh baya terdengar dari dalam toko memanggilnya. Seketika wajah bocah itu menjadi sumringah. Dia berlari menghampiri suara yang memanggilnya dengan begitu semangat. Tak lama, ia keluar dengan menjinjing beberapa barang belanjaan. Dia berjalan agak pontang-panting, sepertinya barang yang dibawanya cukup berat. Sejenak aku ingin membantunya, tapi pada akhirnya aku hanya memandanginya saja. Dia berhenti sejenak, melepaskan jinjingan di tangannya. Kulihat nafasnya mulai terengah-engah. Dia kembali menjinjing bawaannya menuju sebuah angkutan umum dengan setengah berlari. Lagi-lagi, aku hanya menatapnya. Ibu paruh baya tadi memberinya beberapa lembar uang seribuan. Senyum bocah itu kembali merekah. Nafasnya masih terengah-engah. Ia seperti mendapatkan kembali energinya yang habis dikurasnya beberapa menit yang lalu. Ia kembali berdiri di samping toko di sudut pasar itu sambil berusaha mengantongi uang yang diterimanya. Tangan mungil itu memijat-mijat tangan lainnya bergantian. Kurasa dia merasakan tangannya mati rasa karena barang yang dibawanya tadi sepertinya cukup berat. Setengah dari berat badannya, kurasa.
“Im, tolong kesini Im!”, kali ini si pemilik toko yang memintanya membantu membereskan toko. Bocah itu memanggul barang-barang yang sebelumnya diletakkan di luar ke dalam toko. Cukup banyak barang yang ia angkut tapi tetap terlihat begitu semangat. Kali ini, dia menerima upah yang lebih banyak dari sebelumnya dan pergi meninggalkan toko dengan wajah berseri-seri. Aku memandanginya sampai dia benar-benar hilang dari penglihatanku. Setelah ia tak lagi terlihat, aku tersadar dari lamunanku dan melihat sebagian toko di pasar itu sudah mulai ditutup oleh pemiliknya. Dan aku belum mendapatkan satupun barang yang diperlukan kelompokku! Kebetulan toko di sudut pasar itu, tempat bocah kecil dengan panggilan “Im”, yang aku tidak tahu siapa nama aslinya, mungkin Boim, Toim atau Naim, masih belum tutup. Aku segera mencari semua yang kubutuhkan. Saat aku hendak membayar semua belanjaanku, bocah itu terlintas di pikiranku. Demi memuaskan rasa ingin tahuku, aku bertanya pada si pemilik toko. Betapa terkejutnya aku mendapat jawaban dari si pemilik toko. Mataku mulai berkaca-kaca tapi aku mencoba menahan agar titik-titik kecil air mata tidak meleleh dari sudut mataku. Akan sangat memalukan jika aku harus menangis di tempat umum seperti ini.
Aku meninggalkan pasar yang mulai sepi. Parkiran yang tadi kulihat hampir penuh, sekarang sudah bisa kuhitung jari.
Hari semakin sore dan jarak yang harus kutempuh masih cukup jauh. Sepanjang perjalanan, aku memikirkan bocah tadi. Betapa hebatnya dia. Bocah kecil yang tangguh. Setiap hari, sepulang sekolahnya ia berdiri di samping toko di sudut pasar itu, tanpa sedikit pun rasa malu menjadi kuli angkut di usianya yang masih sangat belia agar bisa mencukupi semua keperluan sekolahnya. Dia hanya hidup berdua dengan neneknya yang sudah tidak terlalu bugar. Aku mengingat semua yang telah kupikirkan sepulang sekolah tadi. Aku jauh lebih beruntung dibandingkan bocah itu tapi aku masih saja mengeluh! “Tidak tahu diri!”, hinaku pada diriku sendiri. Kini air mata benar-benar meleleh di pipiku. Beberapa orang melintasiku, memandangiku, tapi aku tidak peduli. Aku benar-benar menyesali perbuatanku. Tidak seharusnya aku membenci hidupku saat masih ada orang lain di luar sana yang hidupnya lebih sulit dari hidupku. Seorang anak kecil di sudut pasar telah membuka mata dan hatiku. Ayah, Ibu, maafkan aku yang terlalu banyak menuntut. Tuhan, maafkan aku karena aku kurang bersyukur atas apa yang telah Kau berikan untukku.
Aku mengingat-ingat jawaban Ibuku, yang sebelum hari ini tidak begitu aku pedulikan. Suatu saat aku pernah bertanya, ”Bu, mengapa Tuhan menciptakan Atas dan Bawah?”
“agar manusia selalu bersyukur saat melihat ke bawah dan berusaha lebih keras saat melihat ke atas”, jawabnya.
THE END

Ternyata Ayahku Adalah Wali Kelasku

“Dzul! Dzul! bangun, Dzul! sholat tahajud dulu!” Alizah, sahabat Dzulvia membangunkan Dzulvia. “Uh! emang pukul berapa, sih Al!” kata Dzulvia seraya menarik selimutnya. “Pukul 2 tahu!” ujar Alizah setengah kesal. Dzulvia segera bangun lalu merapikan kasurnya. “Yuk! wudhu dulu!” ajak Dzulvia. Alizah dan Dzulvia segera wudhu.
Namanya Dzulvia Azilah Melatika. Ia tinggal di panti asuhan ‘Kasih bunda’. Orangtua Dzulvia dikabarkan meninggal pas umur Dzulvia 4 tahun. Lalu ia diasuh oleh neneknya dan kakeknya. Tapi, pada umur 6 tahun, nenek dan kakek meninggal. Jadi, ia dibawa ke panti asuhan ini. Oya! pemiliknya namanya bunda Melza. Di panti asuhannya ada hanya 5 orang. Yaitu Dzulvia, Alizah, Miliena, Fhino dan Rico.
Usai wudhu, Dzulvia dan Alizah segera sholat tahajud. Usai sholat dan merapikan alat sholat, Dzulvia menyambar handuk gambar domba lalu mandi. Usai mandi, Dzulvia memakai seragam atasannya baju lengan panjang warna putih polos, rok semata kaki warna hijau, jilbab putih dengan bordiran logo sekolahnya dan bordiran namanya. Tak lupa dasi warna hijau berlogo sekolahnya. Dasinya mirip dengan dasi wisuda. Lalu memakai kaus kaki hitam-putih. “Ayo cepat!” tegur Rico. “Iya!” ujar Dzulvia seraya mengambil buku paket SKI (sejarah kebudayaan islam), Matematika, dan bahasa arab. Yup! setiap usai sholat tahajud dan mandi, mereka belajar kelompok. “Allahu Akbar… Allahu Akbar…!” azan Subuh telah berbunyi. Dzulvia segera menggelar sajadah dan mengenakan mukena. Lalu sholat subuh. Karena wudhunya belum batal, jadi langsung sholat deh.Usai sholat dan merapikan alat sholat, Dzulvia memasukkan bukunya dan mukena ke dalam tasnya. Lalu menggendong tasnya warna hijau bergambar bunga warna biru, menuju ruang makan. “Hallo Bun! Fhey!”sapa Dzulvia, Alizah, Rico, Miliena, dan Fhino sesampai di ruang makan. “Halo!” sapa balik bunda Melza dan anaknya yang masih kelas 1, Fheyra atau disapa Fhey. “Hari ini sarapan apa, Bun?” tanya Alizah. “Nasi goreng dengan udang balado dan jus melon,” jelas Fhey. Usai sarapan, Fhey, Dzulvia, Dkk berangkat sekolah. Oya sekolah mereka Globanic Islamica Elementary School (GIES). Usai sampai di sekolah, Fhey dan Miliena masuk kekelas 1-Alif. Rico dan Fhino kekelas 4-Kha. Sedangkan Dzulvia dan Alizah ke kelas 5-Ra.
“Teet… Teet… Teet…” Bel berbunyi. Semua siswa/Siswi GIES berbaris di halaman depan sekolah. Senin ini yang menjadi petugas upacara kelas 5-Ra. Dzulvia menjadi pembaca UDD (undang-undang dasar) 1945. Sedangkan Alizah menjadi Dirijen. Usai Upacara bendera/Apel, Semua murid dilarang masuk ke kelas dulu. Mereka disuruh duduk di halaman bekas Upacara bendera.
“Assalamualaikum Wr.Wb!” salam ustadz Achmad, selaku kepala madrasah. “Waalaikumsalam WR.WB!” Koor semua murid. “Hari ini, kita kedatangan guru baru, namanya Ustadz Roby,” jelas Ustadz Achmad. Ada seorang pria tampan, tinggi, dan putih berdiri di samping ustadz Achmad. “Dia menjadi wali kelas 5-RA!!!” seru Ustadz Achmad. “Hore!!!” sorak murid kelas 5-Ra. Mereka disuruh masuk kelas. Ustadz Roby masuk ke kelas 5-Ra. “Assalamualaikum!” sapa ustadz Roby. “Waalaikum salam!!!” sapa balik murid kelas 5-Ra. “Hari ini pelajarannya apa?” tanya ustadz Roby lembut. “SKI, Matematika, sama bahasa arab!” jawab Dzulvia. “Gimana kalau kita perkenalan dulu?” usul Ustadz Roby. Mereka setuju. No. absen Dzulvia setelah Alizah. “Setelah Alizah, Dzulvia!” panggil ustadz Roby. “Nama saya Dzulviana Azilah Melatika, saya lahir tanggal 3 April 2006, saya lahir di Blablabla…” Dzulvia memperkenalkan dirinya panjang Lebar. “Ustadz Roby! Ustadz, bangun!” Dzulvia berusaha membuyarkan lamunan ustadz Roby. “Eh! iya, Dzul!” akhirnya Ustadz Roby tersadar dari lamunanya. “Ustadz kenapa?” tanya Dzulvia. “Biodata kamu, sama kayak anakku, tapi ia diculik,” jelas Ustadz Roby.
Waktu istirahat
Dzulvia memesan semangkuk Bakmi, jus melon dan es krim vanila dengan hiasan buah ceri dan astor. Kalau Alizah memesan semangkuk bakso, jus anggur, dan donat selai blueberry. Usai datang pesanan mereka, mereka membuka pembicaraan. “Aku punya firasat, deh, Dzul kalau kamu anak Ustadz Roby,” ujar Alizah, lalu menggigit lembut baksonya. “Alah! itu cuma firasatmu aja, Al!” cetus Dzulvia, lalu menyeruput jus melonnya.
Keesokan hari di sekolah pada jam istirahat
“Dzul! bisa kamu ikut Ustadz ke ruang Ustadz?” pinta Ustadz Roby pada Dzulvia. “Eumh… eh bisa, Us!” ujar Dzulvia. Dzulvia mengikuti Ustadz Roby dari belakang.
“Duduk!” perintah Ustadz Roby pada Dzulvia sesampai di ruangan beliau. Dzulvia duduk. “Kamu punya tanda lahir di siku bentuk lingkaran?” tanya Ustadz Roby. “Nih! kok Ustadz bisa tahu?” kata Dzulvia seraya menunjukkannya. “Hah! kamu adalah anakku, Dzul. Soalnya namanya sama, lahirnya sama, pokonya semua sama!!” pekik Ustadz Roby. “J.. ja…d..i… Jadi!!!” pekik Dzulvia. Spontan, Dzulvia memeluk Ustadz Roby yang ternyata ayah kandungnya. “Yah! gimana ceritanya, kok aku dibuang, sih!” tanya Dzulvia. “Begini, dulu, pada umur 2 bulan, ada yang maksa kamu untuk diadopsi sama wanita dan pria tua, dia ancam ayah sama bundamu kalau tak mau ngasih kamu, nanti ia lapor polisi kalau kami mencuri kamu, Dzul!” jelas Ayah. “Hah! tapi, katanya Ayah dan bunda meninggal. Katanya mereka nenek kakekku,” cetus Dzulvia.
“Dzulvia, ayo kemasi barangmu! ada yang mau mengadopsi kamu,” perintah bunda Melza. “Dzul! kubantu, ya…,” ujar Alizah dengan lirih. Mereka memasukkan barangnya ke koper Dzulvia. Lalu Alizah mengantar Dzulvia sampai di depan pintu. “Loh! kamu Dwi Alizah Shepta, kan?” tanya Ayah Roby. “Iya, Ustadz! saya di sini karena orangtua saya sudah meninggal,” jelas Alizah. Ayah Roby menganggkat Alizah sebagai anaknya. “Makasih, Ustadz.. Eh… Ayah!” ujar Alizah. Dzulvia dan Alizah menjadi anak Ayah Roby dan Bunda Zania. Mereka hidup bahagia.

Ada Cerita di Tahun Enam Tujuh

Kawan, izinkanlah saya menceritakan satu kisah kecil di tahun enam tujuh, namun berjanjilah…, jangan memberitahukan kisah ini kepada orang-orang berpakaian hijau. Nanti kamu diculik.
Masih kuingat bagaimana rasanya sebilah parang akan menggorok leherku, saat fajar telah menyingsing sempurna. Di belakang halaman rumah reyot —di pinggir kali— bersama Tuanku, kami diperhadapkan pada kematian.
Sebelum kematian itu menjemput, saya mencoba melawan sekuat tenaga, menyelamatkan Tuanku dan kabur dari tempat penjagalan. Namun sayang seribu sayang, saya hanyalah makhluk tak berdaya, tak sebanding melawan orang-orang berpakaian hijau, dan tahukah kau kawan konsekuensi dari perlawanan yang sia-sia itu? Saya diseret ke dalam penjara yang terbuat dari bilah-bilah bambu.
Kakiku telah diikat dan tubuhku dikurung sedemikian rupa, seluruh nyaliku ciut untuk melawan. Bahkan untuk menopang tubuh saja saya tak kuat, apalagi untuk kabur. Namun yang membuat hati ini meringis dan sedih nian, tatkala melihat Tuanku meringis kesakitan. Popor senjata mendarat di pelipisnya, darah mengucur dengan deras, saya hanya menatap pilu. Tapi apalah daya diriku, makhluk tuhan yang lemah.Mungkin di dalam benakmu ada satu pikiran yang berkelebat, dikurung dalam penjara yang terbuat dari bilah-bilah bambu namun tidak bisa kabur. Kamu keliru kawan, sungguhpun saya telah berusaha untuk kabur dan sungguhpun saya berusaha untuk menyelamatkan Tuanku. Tetapi kawan, ke empat sisi penjara bilah-bilah bambu itu dijaga ketat orang-orang berpakaian hijau, dengan sebilah parang di tangan kanan, pistol tersangkur di pinggang sebelah kiri, bagaimana mungkin saya yang lemah ini bisa kabur. Ditambah lagi tatapan orang-orang berpakaian hijau bak mata elang yang tajam, laksana mata itu seperti pedang yang siap menusukimu, menyayat-nyayat kulit dan tubuhmu.
Di awal tahun enam tujuh, saya dan Tuanku berlari menyusuri satu rumah ke rumah lain, satu kampung ke kampung lain yang ada dalam wilayah Kawedana A —salah satu bekas wilayah Karesidenan B— dengan satu tujuan, bersembunyi dari kejaran orang-orang berpakaian hijau.
Di ujung pematang sawah dekat selokan, tatkala Tuanku menghentikan langkah kakinya dan berdiri pada satu rumah reyot yang pintunya telah termakan usia. Kulihat Tuanku berdiri terpaku sembari mengatur napasnya yang tersengal-sengal, begitu capai lari dari kejaran orang-orang berpakaian hijau. Sesaat kemudian Tuanku menggedor-gedor pintu reot yang ada di ujung pematang sawah dekat selokan.
“Tolong, sembunyikan saya,” sahut Tuanku kepada pemilik rumah itu, tetapi pemilik rumah itu bergeming tak berkenan atas permintaan Tuanku, kemudian membanting pintu rumah itu, “tolonglah saya, kumohon.” Tuanku memelas sembari menggedor-gedorkan pintu, memelas agar diberikan perlindungan. Namun sayang, pemilik rumah itu acuh atau lebih tepatnya takut dicap merah.
Hati Tuanku remuk-redam, mendapati perlakuan demikian, ia yang dahulu dihormati karena telah berjasa membantu petani-petani di hampir seantero Kawedana A, kini diacuhkan, dicampakkan oleh orang-orang yang pernah memelas, bersimpuh meminta bantuan. “Dasar ular, culas!” Tuanku merutuki nasibnya, dipandanginya rumah reyot itu dan kemudian berlalu meniggalkan dengan perasaan dongkol.
Kini kembali, kami sedari malam hingga fajar berlari menyusuri satu kampung ke kampung lain, satu desa ke desa lain, satu pematang sawah ke pematang sawah yang lain, demi satu tujuan, mempertahankan hidup dari buruan orang-orang berpakaian hijau.
“Kurasa kita aman sekarang,” sahut Tuanku, kemudian berbaring di atas gundukan tanah sejenak melepaskan penat, “untunglah mereka tidak melihat kita bersembunyi di balik semak belukar ini.” Tuanku kemudian memejamkan mata.
Ketika Tuanku masih terlelap, perlahan namun pasti terdengar sebuah langkah kaki, kulihat dari balik semak belukar beberapa orang berpakaian hijau sedang menggiring tujuh pemuda kampung, berjalan menapaki pematang sawah yang tak jauh dari sungai kecil yang mengairi sawah itu. Mereka bertujuh berbaris membelakangi orang-orang berpakaian hijau.
Salah seorang dari mereka kemudian menghunuskan pedang, dan mengangkatnya ke udara, dari jarak tempatku mengintip terdengar jelas suara yang lantang.
“Berdasarkan maklumat tak tertulis, tuan-tuan sekalian dituduh sebagai simpatisan merah, oleh karenanya dijatuhi hukuman tembak.” Pedang yang terhunus di udara kini telah terhunus menghujam bumi, suara tembakan terdengar menyeruak ke udara, dor!
Terlihat jelas di mataku, ke tujuh pemuda itu meregang nyawa dan berjatuhan —terjun bebas— ke sungai kecil yang mengairi persawahan itu.
Sontak, suara itu membuat Tuanku terjaga, dengan sigap ia berjalan penuh kehati-hatian, mengintip dari balik semak belukar, nampak keringat dingin mengcur membasahi pelipisnya, “sebaiknya kita lari cepat,” hanya itu yang diucap Tuanku, kami pun bergegas meninggalkan tempat itu, menyusuri pematang sawah, mencari tempat perlindungan, “entah sampai kapan pelarian ini akan berakhir.” Sahut Tuanku.
Sudah empat hari kami berlari dari kejaran orang-orang berpakaian hijau, Tuanku pun nampak kelelahan, wajahnya kini telah tirus bin kurus, matanya menapakkan kelelahan luar biasa. Tuanku sejenak berhenti di salah satu rumah reyot yang berada di pinggiran kali, dipandanginya pintu kayu yang sudah nampak lusuh itu, jemari lemah Tuanku mengetuk pintu itu, sedetik, dua detik, tiga detik, “tidak ada jawaban,” kembali Tuanku mengetuk pintu itu, sedetik, dua detik, tiga detik, tak ada jawaban. “Sebaiknya kita masuk saja.” Kami pun memasuki rumah reyot itu, atapnya berdaun rumbia, lantainya bertegel tanah dan tidak ada seorangpun penghuninya, hanya ada kasur lusuh, berdebu, dan berbau apek.
Malam itu, diputuskan untuk beristirahat sejenak, cukup lelah dan payah berlari dari kejaran orang-orang berpakaian hijau.
Kini kami berada di belakang rumah reyot itu, ada halaman luas yang berhubungan langsung dengan kali, di sebelah kiri halaman belakang rumah ditumbuhi pepohonan bambu, sedangkan di sebelah kanan rumah ditumbuhi beberapa pohon mangga berdaun lebat nan rindang, dari balik pohon mangga itu terhampar persawahan yang cukup luas, namun sudah tak terawat.
Tuanku menyulut api, membakar kayu dan dedaunan yang berserakan di sekitaran halaman belakang rumah reyot itu, rasa lapar menjejali, rasa dahaga menggerogoti kerongkongan.Tuanku dengan langkah penuh kehati-hatian menuju kali yang ada di belakang rumah, dengan perlatan dapur yang ditinggalkan si empuhnya rumah, Tuanku menggayung air yang cukup keruh dan memberikan kepadaku, “minumlah” sahutnya, tanpa babibu menjalarlah air itu membasahi kerongkongan. Setidaknya malam itu ada sedikit kesejukan dan kesyukuran menjelajahi jiwa, tuhan masih memberikan kekuatan.
Fajar belum menyingsing sempurna, sayup-sayup terdengar suara langkah kaki yang bergemertak, menyeruak, memekakan pendengaran. Saya terbangun, dan samar-samar kulihat Tuanku kini telah bersimbah darah, mataku terbelalak melihat pemandangan itu popor senjata mendarat di pelipisnya. Tuanku hanya meringis menahan kesakitan. Kucoba untuk membantu Tuanku, namun sayang, orang berpakaian hijau itu terlalu kuat untuk kutandingi. Ia memegangi seluruh tubuhku, saya berontak! Ia pun menguatkan cengkramannya, membuatku sesak, ada pedang yang tak terlihat menghunus tajam menembusi hatiku, pilu tak bisa berbuat apa-apa. Orang-orang berpakaian hijau menyeretku kemudian memasukkanku ke dalam penjara yang terbuat dari bilah-bilah bambu, entah kapan mereka membuat penjara itu. Kakiku diikat, aku meringkuk ketakutan.
Tuanku hanya menatapku nanar, matanya berubah merah, wajahnya merah, tubuhnya merah bermandikan darah yang bewarna merah.
“Dasar Merah!” Begitulah makian yang dilontarkan orang-orang berpakaian hijau. Tuanku diseret seperti bangkai binatang, ia tak melawan, tak meringis kesakitan lagi, entah mungkin Tuanku sudah meregang nyawa ataukah terlalu lelah untuk menahan siksaan. Orang-orang berpakaian hijau itu kemudian membuang tubuh Tuanku ke kali di belakang rumah. Kini, Fajar telah menyingsing sempurna.
Syahdan, tibalah giliranku menjemput ajal, sebilah parang telah berada di leherku, saya sudah pasrah menyambut ajal. Akan tetapi, kematianku ini tidak sia-sia, karena cerita ini sudah kukisahkan kepadamu kawan dan berjanjilah jangan menceritakan kisah ini kepada orang-orang berpakaian hijau, nanti kamu diculik.
Sejenak algojo yang akan mengeksekusiku sedang merapalkan suatu mantra, sebilah parang itu kini semakin dekat di urat nadi leherku, sejurus kemudian darah mengucur deras dari kerongkonganku yang telah digorok. Tubuhku kejang-kejang, tak kurasakan lagi tarikan nafas, namun masih kurasakan algojo itu berucap.
“Setidaknya, pagi hari ini kita makan ayam bakar.”

My Earth

Namanya Meli. Dia kini duduk di kelas 8, di sebuah sekolah ternama di kotanya. Dia tidak terlalu menyukai hal-hal realistis yang membuatnya harus berfikir sampai jenuh. Bahkan dunia khayalnya kadang-kadang melebihi batas.
Meli hanya suka satu materi pelajaran. Yaitu tentang Antariksa, seperti: tata surya, matahari, galaksi, dan yang sejenis. Cita-citanya bahkan ingin menjadi astronot. Dunia antariksa selalu membuatnya penasaran.
Malam itu, Meli sedang duduk di gazebo yang ada di samping rumahnya. Dia sedang mengerjakan PR di situ. Malam itu bulan purnama. Bintang-bintang bertaburan di langit. Indah sekali. Meli memandang ke atas dan melihat semua itu.
Sebuah benda berwarna merah nampak seperti bintang ikut menemani bulan. Bukan, itu bukan bintang. Itu planet Mars. Ada lagi benda lain yang ia lihat dan tampak aneh meskipun samar-samar. Sebuah benda langit yang nampak bercincin.
“Saturnus?. Apa? aku dapat melihatnya” katanya girang.
Kedua planet itu tampak lebih besar dan terlihat jelas. Meli melihat sebuah benda lagi yang terbang dan cukup panjang. Sepertinya itu komet.
Meli sangat girang. Ia dapat melihat benda-benda itu. Saat Meli hendak masuk ke dalam rumahnya, sebuah benda berwarna biru muncul. Sejenis planet. Bumi. Tidak! Dia ada di Bumi, bagaimana ia bisa melihat bumi yang sedang ia pijak itu ada di langit?. Benda itu semakin membesar dan mendekat ke arahnya. Dia tidak bisa pergi ke manapun. Kakinya seperti tertancap ke tanah. Benda itu semakin mendekatinya.
“Hah…? Tuhan, tolong aku” ucap Meli merapatkan kedua tangannya. Namun semakin benda itu mendekati Meli, semakin mengecil ukurannya. Dan akhirnya benda itu jatuh di dekat kaki Meli dan hanya sebesar genggaman tangan saja.
Benda itu bulat. Tidak. Tengahnya agak menggembung. Warnanya biru. Persis seperti Bumi. Meli mengambilnya dan mengamatinya. Langsung ia bawa ke dalam rumah.“MELI BANGUN SUDAH SIANG!!” Bunda Meli berteriak membangunkan Meli.
“Ya Bun, ini Meli bangun” Meli segera pergi ke kamar mandi dan berpakaian rapi bersiap untuk ke sekolah. Kemudian ia ingat sesuatu. Benda itu. Dia membuka sebuah kotak. Benda itu ada di situ. Ia tidak bermimpi!. Ia membawanya dan segera berangkat sekolah.
Saat istirahat, ia pergi ke gudang. Membuka kotak itu. Benda itu bersinar. Terang sekali.
“Apa ini planet kembaran bumi? Ah aneh!”
Meli menemukan belahan dalam benda itu. Ia membukanya. Susunannya sama seperti bumi. Di situ ada tulisan “Bumi, Bumi, Bumi. Selamatkan Bumi”.
Meli membaca tulisan itu. Tiba-tiba berdiri seseorang di belakangnya. Orang itu mirip sekali dengan Meli.
“S..siapa kau?” tanya Meli.
“Namaku Viki. Aku adalah kembaranmu. Aku berasal dari planet kembaran Bumi. Bumi ini sudah tua. Kalian para manusia selalu merusaknya. Dan planetku juga ikut menanggungnya. Kami membenci kalian” katanya. Meli sangat takut.
“Apa maumu?”
“Kau harus perbaiki planetmu. Entah bagaimana caranya. Jika bola itu tetap seperti itu ukurannya, kau tidak melakukan perbaikan itu. Jika bola itu mengecil, usahamu berhasil. Bola itu akan mengecil seiring usahamu. Jika bola itu lenyap, maka kau berhasil. Jika dalam 1 bulan bola itu masih ada, kalian akan menanggung masalah” kata Viki kemudian menghilang.
Sejak saat itu, Meli mulai menjaga Bumi. Menjaga kebersihan, tidak menggunakan AC secara berlebihan, tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon, bahkan ia juga mengajak dan memberi usul kepada kepala sekolahnya untuk melakukan kerja bakti setiap hari Jum’at. Bola itu juga perlahan mengecil.
“Tapi, apa aku bisa? Bumi ini luas dan aku hanya melakukannya di sekitarku” gumam Meli.
“Kau melakukannya dengan baik. Satu juga tidak masalah daripada tidak ada. Tapi Meli, waktumu kurang 12 jam lagi dan bola itu masih ada” kata Viki.
“Apa yang harus kulakukan?” tanya Meli.
Namun Viki menghilang. Meli memikirkan hal itu semalaman. Tidurnya pun tak nyenyak. Bahkan ia tidak bisa tidur. Akhirnya ia berfikir.
“Bumi tidak hanya mendapat bahaya dari dalam, tetapi juga dari luar. Bisa saja tertabrak planet lain, atau hujan meteor. Mungkin itu. Ya aku harus berdoa kepada Tuhan” katanya. Ia akhirnya mulai berdoa dan bergegas tidur.
“Meli kamu mau seharian tidur hah?” Bunda membangunkan Meli.
“Bunda, aku baru tidur. Semalam aku tidak bisa tidur” kata Meli.
“HAH? Kamu tidur sehabis isya kemarin. Bunda membangunkanmu tapi tak bisa. Sampai ayahmu yang menggendongmu ke kamar ini” kata Bunda
“Hah?”
“Sudah, cepat! Sudah jam 8 dan anak gadis sepertimu baru bangun?”. Bunda meninggalkan Meli.
“Jadi, itu hanya mimpi?” gumam Meli.
Ia bergegas membuka kotak itu. Ada selembar kertas bertuliskan “TERIMAKASIH MELI, TELAH MENJAGA BUMI. SAMPAI JUMPA. Viki”
Meli semakin bingung. Dia akhirnya tak menjadikan itu masalah. Justru membuatnya semangat untuk menjaga Bumi.

Sebuah Cerita dari Sepasang Mata

Merah pada tangkup bibirnya boleh jadi tiada bergeming. Namun kelopak retinanya, lihatlah. Atau lebih tepatnya, dengarlah. Ia tengah bercerita. Tengah mengibaratkan dirinya sebagai sepasang kekasih. Dalam hal ini mungkin aku dan engkau. Iya kah? Tentu saja tidak. Sebab kita bukan kekasih, seperti kata anakmu. Namun tetap paksalah kepalamu untuk mengangguk, demi sedikit meletakkan rasa bahagia pada sepasang mata yang lain, mataku. Sekali ini saja di hari pernikahanku. Dengan adikmu; Han.
Adikmu yang pendiam dan memiliki hati yang lembut ini juga memiliki sepasang mata yang tengah bercerita dengan ceritanya sendiri. Hanya saja telingaku tak menjangkau suara dalam sepasang matanya. Ada sekat di sana. Namun sebagaimana aku, aku tetap masih bisa menyimpulkan sesuatu dari beberapa tafsiran. Barangkali lelaki yang hari ini telah resmi jadi suamiku ini tengah bercerita lewat kedua matanya tentang kebahagiaannya telah menikahi perempuan yang begitu dicintainya; aku. Atau barangkali tentang rasa ketidakenakan dalam debar jantungnya saat melihat sepasang mata kakaknya yang duduk khidmat di kursi tamu bersama Lui, anaknya yang kini berusia lima tahun. Tentang kecemasan yang boleh jadi akan kambuh di tengah-tengah pernikahan kita dan tentang sedih yang lebih mirip perasaan sesal tiada akhir telah menikahi mantan kekasih kakaknya sendiri. Atau tentang pertanyaan panjang lebar yang memenuhi ruang kepalanya mengenai apakah kelak aku akan mencintainya juga? Barangkali. Aku tersenyum. Sebuah ekspresi yang memang paling pantas dipasang pada mempelai pengantin yang tengah dipajang. Bukankah begitu? Di situ akan timbul pertanyaan baru, kepada siapakah aku tersenyum. Semua orang mungkin tidak akan melontarkan pertanyaan semacam itu karena mereka tahu aku tengah tersenyum dengan pernikahanku, dengan bayangan masa depan rumah tanggaku. Dengan suamiku. Namun kau pasti membatinnya diam-diam. Begitu yang kutangkap dari pembicaraan sepasang matamu. Ia bercerita dengan nada sedikit meliuk, nada orang bertanya. Apakah benar dia tersenyum padaku? Setidaknya itu amat kelihatan dari caramu membalas senyumku dengan sungging yang ragu-ragu. Ah … Bi, kau tampak lucu dengan gelagat seperti itu. Mengingatkanku dengan peristiwa dua belas tahun lalu saat kita masih duduk di bangku SMP. Kau dengan kacamatamu begitu gelagapan jika mendapatiku menanyakanmu membawa pulpen berapa biji sebab aku hendak meminjam. Kau gagap mengangguk. Tergesa mengambil pulpen dalam tas punggungmu dan gemetar memberikannya padaku. Yubi … jika aku mengingatkannya padamu pasti kau akan tertawa geli. Mengganggap begitu mengerikannya dirimu jika berhadapan dengan perempuan saat sekolah dulu.
Setidaknya begitulah ekspresimu saat tujuh tahun setelah lulus SMP kita berjumpa kembali di sebuah seminar pada kampus kita. Ah, betapa yang paling mengagumkan adalah karena kita baru tahu kuliah dalam satu tempat yang sama setelah bertahun-tahun kita berada di sana. Tidak apa-apalah. Jodoh masih meluangkan dirinya untuk kita sedikit bercerita satu sama lain.Jodoh?
Aku sempat berharap engkau menjadi jodohku. Namun belum saja harapan itu menjadi bulat, sebuah nama sudah terang-terangan menyingkirkanku dari harapan konyol itu. Aku tak jadi berharap. Tapi tak apa-apa. Sebab sudah kubilang, itu belum bulat. Harapanku masih dalam bentuk permainan tebak-tebakan antara kepalaku dan kertas-kertas dalam diari. Sungguh, ketika kau bilang kau hendak menikah dengan Sauma dalam waktu dekat, aku tidak merasa patah hati. Malah cenderung hampir meloncat karena saking girangnya mendengar kabar itu. Perasaanku bercampur-aduk dengan kegelian saat mengingat aku hampir berencana untuk mencintaimu.
Kejadian ngerinya berlangsung setelah aku berjumpa lagi denganmu, lima tahun setelah kau menikah. Saat itu di sebuah taman kanak-kanak. Tempat Lui belajar di sana. Kau bermaksud menjemput Lui. Tanpa sengaja bertemu denganku yang kebetulan sebagai guru Lui. Kalau kau perempuan mungkin aku sudah memelukmu, Bi. Tapi kau lelaki, dan aku harus menjaga perasaan Lui dan anak didikku yang lain.
“Jadi kau Papa Lui, Bi?”
“Jadi kau Guru Lui, Fah?”
“Hahaa.” Kita tergelak kompak.
Berpasang-pasang mata anak didikku mecuatkan pertanyaan. Segera aku mengerti, aku langsung bungkam dan menyuruhmu ikut bungkam. Tapi kita terus tertawa setelahnya. Sampai aku tak sadar sudah berada dalam rumahmu dan merasakan ada yang ganjil di sana.
“Istrimu kemana, Bi?”
Belum kau menjawab, Lui yang kala itu berada di sampingku langsung terbirit menuju kamarnya. Ada apa sebenarnya?
“Sauma meninggal tujuh bulan lalu,” aku hendak bertanya kenapa, namun urung.
Aku tak tega menatap wajahmu yang lusuh mendadak begitu. Tapi kau malah menjawab pertanyaanku yang tak terdengar.
“Sauma terjatuh di kamar mandi. Ia keguguran anak kedua kami yang berusia lima bulan sudah. Namun darahnya kelewat banyak yang keluar karena lambat dapat pertolongan. Seutuhnya salahku. Waktu itu aku tidak ada di rumah. Ketika pulang aku mendengar Lui menangis histeris sambil terus berteriak darah. Aku–” Cukup, Bi. Cukup.
Aku menghentikannya karena kutahu kau tak pernah sanggup melakukannya. Aku menatapnya lekat-lekat lantas memeluknya begitu erat. Aku sudah tak peduli jika pada kenyataannya Yubi adalah lelaki. Sebab yang kutahu, dia adalah seorang teman yang sedang membutuhkan ketenangan. Maka aku melakukannya. Aku pun melepaskan pelukanku dengan hati-hati begitu mengingat Lui sedang meringkuk dalam kamarnya. Aku segera berlari. Dan pemandangan yang kulihat adalah Lui sedang pulas tertidur sambil memeluk boneka koala sebesar dirinya.
“Itu pemberian Sauma di hari ulang tahunnya satu minggu sebelum ia pergi.” Ujar Yubi di belakangku.
Sebagai seorang guru, aku bisa memahami bagaimana perasaan Lui. Aku pun mendekatinya dan mulai mengusap-usap rambutnya. Mengusap air matanya yang sudah kering di kedua pipi merahnya.
Lima bulan kemudian Lui ulang tahun. Ia merayakan pestanya di rumahnya, sangat sederhana. Hanya aku, Yubi, Han. Hanya empat orang di sana. Namun Lui begitu haru dan bahagia. Ia memeluk kami. Ia meniup lilin lalu makan kue pelangi. Lui cantik sekali saat itu. Dengan kostum peri warna putih. Yubi sebagai papa Lui berkata akan memberi kejutan kepada Lui. Lui menunggu sangat antusias. Dan jauh yang dibayangkan, Lui ternyata tak menyukai kejutan itu. Ia sangat marah dan membanting kue ulang tahunnya. Ia menangis dan berlari keluar pintu. Ke luar rumah. Ke jalan raya. Kami bertiga spontan mengejarnya, namun segalanya sudah terlambat. Sebuah bus menabraknya semata-mata. Kami lemas seketika sedang truk yang menabrak melaju tanpa peduli. Yubi panik dan menyuruh Han memanaskan mobil. Kami segera menuju rumah sakit. UGD. Syukur, Lui masih dapat diselamatkan. Tidak parah juga. Hanya ada pembengkokan tulang pada kaki kirinya. Memaksanya untuk diperban.
Genap dua hari, Lui siuman. Ia tersenyum melihat pamannya; Han. Juga saat melihat papanya. Namun ketika melihatku, rona kemarahannya masih tampak. Lui memang tampak sudah terlalu bernalar di usianya saat ini. Ia bersungut. Menarik Yubi dan membisikan sesuatu di telinganya. Aku dan Han masih bisa dengar tapi.
“Kejutan papa kemarin buat paman Han saja, Pa. Lui sayang Bu guru tapi Lui juga sayang mama. Lui tidak mau mama sedih di sana. Lui sayang Papa.”
Bu guru buat paman Han saja. Bagaimana bisa? Kalau aku tak dapat menikahi Yubi, yah sudah! Aku tak akan menikahinya apalagi menikahi adiknya. Tidak mungkin. Tapi, tapi, apa kabar bayi dalam perutku? Ia memang masih lima minggu, tapi bulan-bulan akan tetap berganti sampai sembilan bulan nanti. Perutku akan tumbuh dan tanpa seorang suami. Aku merasa ngeri. Memang kesalahan besar telah melakukan hubungan gila tanpa sebuah ikatan. Tapi semua telah terjadi. Berkali-kali. Bagaimana?
Sepasang mata di kursi tamu itu terus bercerita. Meski samar dan cenderung tidak jelas. Tapi aku masih bisa dengar. Ia berbinar dengan kilau yang retak. Aku mengerti, pemilik sepasang mata itu masih menyimpan cinta yang besar kepada perempuan yang telah mendahuluinya terbang ke langit. Namun ia juga mencintaiku, sebesar mencintai bayi dalam kandunganku, sebesar mencintai Lui yang berada di sebelahnya, sebesar mencintai Sauma. Aku mengerti, sebab sepasang mata itu telah menceritakan segalanya. Aku juga mencintai, sejak lama. Sejak kau masih lugu dengan seragam putih biru. Sejak kita berjumpa lagi di acara seminar itu, sejak kau berjanji akan menikahiku dan memberi nama bayi yang kukandung Ihbi. Maknanya Ihfah dan Yubi. Bisa untuk perempuan atau lelaki. Tapi, apa kabar dengan Han? Aku juga harus menjaga perasaannya seperti aku menjaga seluruh perasaan murid-muridku yang berjumlah tiga belas. Terlebih dia begitu pendiam, begitu lembut. Terlebih dia sudah secara terang-terangan mau bersumpah menerimaku sebagaimana adanya. Aku yang tengah hamil anak kakaknya sendiri. Han mencintaiku, sejak SMP juga. Dia lembut sampai tidak ada murid lelaki yang segan bermain dengannya. Dia mengagumiku sejak aku menjadi Pengurus OSIS di SMP yang mengaturnya dan adik kelas lain saat sedang latihan baris berbaris, saat pramuka. Dia menganggapku satu-satunya orang baik yang dikirim Tuhan untuk mengajaknya bermain. Dia mengikutiku hingga ke SMA. Hingga kuliah. Han menyimpan semuanya dengan rapi dalam lemari bernama hatinya. Hingga kemarin, di waktu Lui menjodohkan kami, Han ikut meyakinkanku. Ia berkata bahwa ia masih normal. Walau pendiam begitu tapi ia masih lelaki. Bisa melindungiku dan mengayomiku. Menjadi pemimpin dan menanam benih-benih dalam perutku. Ia meyakinkan dengan sepasang matanya. Aku harus mencintainya bagaimana pun. Cinta Han yang sedemikian itu padaku sejatinya sangat nisbi di dunia. Maka pelan-pelan, sepelan bagaimana pun, aku harus belajar mencintainya.
.
Pelan-pelan, Bi. Semoga kau akan menemukan Sauma baru yang bisa kau, sekaligus Lui mencintainya. Sampai kalian terbang ke langit menyusul Sauma kelak. Kelak, Bi.

Para pengemudi liar

Aku kuliah di salah satu universitas swasta di Batam. Lokasinya terletak di Kelurahan Tembesi, Batu Aji. Setiap pagi aku pergi ke kampus dengan motor bututku, berangkat jam 8 pagi. Yah, perjalanan di pagi hari saat matahari belum mendaki terlalu tinggi di langit memang menyenangkan. Suhu udara masih lembab-sejuk-nyaman untuk dihidrup, teduh, dan segar-walau tak begitu di semua wilayah, terutama distrik gersang.
Ya, setidaknya tempatku tinggal tak seburuk tempat gersang. Lokasi yang kulalui dan kutuju juga begitu. Berangkat dari Piayu menembus jalur sibuk Muka Kuning yang penuh pekerja pabrik, lalu lanjut ke Tembesi yang jadi rute satu-satunya untuk pergi ke Batu Aji -paling efektif.
Jam 7 pagi merupakan waktu yang tak menyenangkan jika ingin diambil untuk waktu keberangkatan. “Macet” adalah nama lain dari jam 7. Karena kebanyakan manusia di Batam bergerak untuk bekerja. Karena itu aku memilih untuk berangkat jam 8 saja, saat jalan sudah agak lengang.
Hanya perlu sekitar 20 menit untuk tiba ke tempat tujuanku -kampus- dengan kecepatan 60 km/jam. Jika ngebut bisa lebih cepat lagi. Namun, karena harga bahan bakar beberapa tahun belakang ini tidak stabil, alias mahal, aku lebih memilih untuk berkendara dengan kecepatan standar.
Ya, berkendara dengan aman itu sangat diperlukan. Karena lebih baik begitu.
Hanya saja, beberapa golongan manusia -terutama pengendara motor- tidak menyukai hal itu. Banyak dari pengendara motor di Batam memacu kendaraan mereka dengan kecepatan yang tak seharusnya. Jika sudah pakai Satria FU, Vixion, Ninja, CBR, apalagi Harley, pengendara motor akan mulai berseronok dengan mesin motor mereka.
“Wajar,” kata mereka, “soalnya motorku kencang larinya, gak enak kalo dibawa lambat.”
Begitulah pengakuan seorang teman kuliahku. Motor yang dia pakai -Satria FU 150- memang tak biasa ditampik kecepatannya. Jika motornya sudah melaju, suara knalpotnya akan berdengung keras, memenuhi telinga-telinga pengendara lain dengan kengerian. Orang itu memang suka memacu kendaraannya dengan ganas.Aku pernah bilang padanya, “Kalau kau bawak laju-laju, nanti yang ada kecelakaan.”
“Aku tak pernah jatuh, tak akan.”
“Yah. Terserahlah. Aku cuma mengingatkan.”
Ajaibnya, beberapa jam kemudian dia pun ditabrak mobil-pick up. Kakinya patah dan harus diopname selama berbulan-bulan di rumah sakit untuk bisa pulih kembali. Akibatnya, dia gagal di semester 2 karena tak mencukupi absen atau ikut ujian. Sekarang dia berada 1 semester di bawahku -masih merengkah untuk berjalan.
Aku sering heran lihat para pengendara motor di Batam ini. Padahal jalan di kota kecil ini tak luas, malahan dengan penduduk sebanyak ini, mereka pasti tahu bahwa jalanan di kota ini akan cukup sempit untuk dilewati. Ugal-ugalan di jalan dengan kondisi jalan ramai akan memicu kecelakaan. Pastinya mereka tahu itu, kan. Tapi mereka mengabaikannya, dan malah bersikap hebat dengan bergoyang-goyang di tengah jalan bersama kendaraannya.
Aku sering dibuat khawatir oleh sikap orang-orang sombong -yang sedikit terbelakang soal hukum lalu-lintas -pecandu kecepatan itu. Karena tak bisa masuk balapan sungguhan di trek, mereka berpacu di jalan raya. Akibatnya, kecelakaan demi kecelakaan pun berlaku.
Entah kapan jalan raya akan kosong oleh pelanggar hukum, aku tak tahu. Semoga saja akan sembuh tak lama lagi-jalan raya penuh bahaya di kota ini. Dan bagi mereka yang tak masuk kategori pelanggar hukum, semoga tidak ikut-ikutan seperti orang-orang itu.
Kebut-kebutan di jalan raya itu tidak baik. Aku sudah membuktikannya, dengan luka besar di batang hidungku, dan tangan kanan patahku.

Sehat Jasmani Bersih Rohani

Pernahkah bertemu orang pincang sebelumnya? Kurasa kalian semua, yang tidak buta dari kecil tahu seperti apa orang pincang itu. Orang-orang pincang adalah mereka yang mengalami defektifitas dalam mobilisasi. Mereka memiliki kelemahan saat berjalan. Terkadang sulit untuk berjalan, atau bahkan tidak bisa berjalan jika tidak menggunakan alat bantu —tongkat dan sebagainya.
Tapi, pernahkah kalian belajar bersama orang pincang di kelas kalian…?
Kurasa pemandangan itu jarang dijumpai. Jika pun ada, hanya di sinetron-sinetron saja. Si pincang itu —heroine cerita tersebut— adalah seorang siswa cerdas. Dia masuk ke kampus besar karena dapat rujukan beasiswa dari SMA lamanya dan lulus tes masuk dengan nilai terbaik. Di kelas dia adalah mahasiswi terpintar dan disukai banyak orang di kampusnya: para dosen, teman-teman, senior-senior, pengurus BAAK, pengepel koridor, tukang listrik, penjaga perpustakaan, ibu kantin, juga cowok terkeren di kampusnya —yang kebetulan pacar gadis lain di kelasnya.
Mengetahui hal itu, sang pacar pun naik angin, melabrak si pincang tersebut, sampai menyakitinya secara fisik. Hal tersebut dilihat oleh si cowok keren. Semerta-merta, cowok tersebut pun menyelamatkan si pincang, sambil bilang, “Kita putus.” pada pacarnya, dengan nada elegan —entah apa maksudnya.
Dari kejadian tersebut, kedua anak keturunan Adam itu pun jadi dekat. Tanpa disadari keduanya mulai menghabiskan waktu bersama tiap harinya, mengenal satu sama lain lebih kompleks lagi. Lalu jatuh cinta. Dan akhirnya pacaran. Memang benar, perjalanan hidup keduanya tidak semulus yang diharapkan, tapi mereka tak menyerah, terus optimis agar bisa tetap bertahan pada situasi semacam apa pun. Sang laki-laki menerima si perempuan apa adanya, dan si perempuan menerima sang laki-laki dengan hati lapang, menyayanginya sepenuh hati biarpun kekurangannya membatasi pergerakannya. Sampai akhirnya mereka menikah. Diberkahi hidup nyaman, tenteram, makmur, dan 2 putra soleh dan seorang putri solehah. Ceritanya berakhir dengan happy ending.
Indonesia banget. Sebuah konklusi menggembirakan.
Hanya saja, hal semacam itu adalah hasil dari buah pikir seorang script writer di rumah produksi sinetron tersebut. Kenyataannya, kehidupan semacam itu tak pernah terjadi.
Ya, fakta di masyarakat tidak memperlihatkan kehidupan seperti itu.
Dalam keseharianku misalnya.
Ada seorang gadis. Namanya Nurmala Rashid. Gadis ini mengambil jurusan Sastra Inggris di universitas yang sama denganku. Gadis itu dan kami juga berada di kelas-kelas yang sama. Di angkatan kamu, ada sekitar 80 orang yang mengambil Sastra Inggris. Ada dua kelas yang dipisah. Di kelasku 40-an dan sisanya di kelas sebelah. 40-an siswa di dalam sebuah kelas kecil bukanlah jumlah yang sedikit.
Nurmala adalah salah satu dari kelas sarat itu, bersamaku dan 40-an lainnya.
Begitu yang ingin kukatakan sebenarnya… Hanya saja, tidak seperti itu kelihatannya. Hal ini lebih kompleks lagi.
Sama seperti heroine di cerita di atas tadi, Nurmala merupakan gadis cantik, penerima beasiswa. Dia juga seorang penderita defektifikasi. Kakinya pernah kanannya pernah patah saat dia masih kecil. Kecelakaan saat di jalan raya. Nurmala mengalami kerusakan pada lututnya, menyebabkan iatak bisa berjalan normal lagi. Dia perlu menggunakan tongkat untuk bergerak. Mirip sekali seperti lansia yang terkena osteoporosis.
Sejak kecil —sebelum masuk SD— sudah harus mendapatkan takdir semacam itu. Sungguh memilukan hidupnya.
Dia tidak pernah punya banyak teman karena kekurangannya tersebut. Nurmala sering mendapat cacian dan cibiran karena dia pincang. Saat SD dulu, Nurmala sering diejek “Nur Tua.” oleh teman-teman satu sekolahnya. Dia bahkan harus melalui 6 tahun pelajaran dengan kesendirian, karena tak memiliki teman. Masa-masa sekolah Nurmala yang seperti itu terjadi selama 12 tahun. Dia lulus tanpa masuk dalam foto perpisahan.Tidak berhenti di situ, kehidupan suram Nurmala masih berlangsung ketika masuk kuliah. Teman-teman sekelas tak menghargainya. Mereka menjauhi gadis itu, tidak mau berteman dengannya. Ada beberapa saja yang ingin berteman dengan Nurmala, ikhlas tanpa maksud lain.
Kehidupan orang kurang lengkap memang tidak mudah. Jika buta tak bisa melihat, jika buta tak bisa mendengar, jika buntung susah makan atau bekerja, jika bodoh terus dibentak, jika gila dibiarkan, dan jika pincang susah berjalan.
Bukan hanya di situ saja. Di kalangan anak-anak zaman kontemporer ini, orang-orang penderita disabilitas juga dianggap pengganggu. Mereka seperti beban yang menjengkelkan. Seolah duri di kuntum mawar. Merepotkan. Karena rasa jengkel tersebut, mereka pun ditindas habis-habisan oleh kaum dominator. Sudah seperti tirani saja…
Namun, biarpun Nurmala ditindas secara mental oleh teman-teman di kelas, tak sekali pun dirinya merasa tersakiti. Baginya, belajar dan lulus kuliah dengan hasil terbaik lebih penting daripada mengurusi orang-orang yang bahkan tidak mau melihatnya itu. Nurmala tidak pernah ingin dijauhi siapa pun. Dia suka berteman —walau tidak pernah mengalaminya sampai akhirnya masuk kuliah.
Dia tidak pernah ingin dikalahkan oleh apa pun, baik itu ejekan atau kutukan sekali pun.
“Kau tak apa-apa memangnya, diperlakukan tak adil begitu?” tanyaku, di satu kesempatan saat kami ngobrol berdua.
“Aku sudah kebal dengan sikap sarkasme begitu. Kalau mereka mau membenciku, aku tak bisa melarangnya. Itu kehendak mereka, hak mereka.”
Aku hanya mendengarkan dengan saksama.
“Tapi, aku tidak pernah membenci mereka, untuk alasan apa pun.”
“Bahkan dengan sikap mereka itu?”
“Ya,” lanjut Nurmala dengan senyum senggang. “Lagi pula, tidak ada untungnya membenci orang lain. Itu hanya akan menambah beban dalam kepala kita, membuat kita sukar untuk konsentrasi. Juga, jika mereka membenciku, bukankah itu artinya mereka memikirkanku. Aku tidak sepenuhnya dijauhi. Hanya saja, mungkin mereka belum bisa menunjukkan sikap ramah mereka pada manusia kurang lengkap sepertiku.”
Begitu miris penjelasan itu. Setelah diperlakukan seperti seorang anak tiri dalam keluarga kejam, dia masih bisa berpikiran positif begitu… Terbuat dari apa hati gadis itu memangnya…?
Dia menampik perbuatan jahat manusia-manusia penyuka konflik itu dengan tanggapan positif. Tidak ada sedikit pun dendam olehnya. Seolah tidak ada yang terjadi.
Jika Nurmala memiliki hati sesempurna itu dengan keterbatasan dan kesukaran baik secara fisik maupun mental, lantas kenapa kita orang-orang normal malah terus-terus saja menyibukkan diri dengan mengkritik orang lain. Sebenarnya, kesempurnaan itu apa? Hanya penuh dengan bagian tubuh tanpa luka ataupun cacat? Apa benar begitu…?
Kurasa tidak…
Orang-orang sempurna sebenarnya banyak yang cacat.
Karena kesempurnaan mereka itu, mereka menyombongkan diri. Mereka menganggap Nurmala sebagai penduduk dari dunia lain. Hal yang biasa terjadi di Indonesia —atau lebih tepatnya dalam hidup manusia.
Ada pepatah Melayu yang pernah mengatakan, “Biar cacat badan, jangan cacat hati.”
Sepertinya kalimat itu menjelaskan betul, apa sebenarnya arti kesempurnaan itu. Kesempurnaan bukanlah dinilai dari apakah tubuh kita lengkap atau tidak. Tapi, apakah kita memiliki hati yang jernih atau tidak. Jika tubuh lengkap tanpa satu kekurangan sedikit pun tapi hati sekotor Bawang Merah yang selalu saja dengki pada Bawang Putih, maka cacatlah orang tersebut. Tubuhnya memang lengkap, tapi hatinya rusak.
Karena hati rusak tersebutlah makanya mereka cacat.

Nepotisme Tingkat Fasik

Pertanyaan itu sulit untuk dijawab pasti. Biarpun sudah ditemukan jumlah spesifiknya, kebenaran tentang total dari suku bangsa di negeri kepulauan raksasa ini masihlah menjadi misteri besar yang belum bisa dipecahkan. Jika ingin dihitung dengan cara blak-blakan, mungkin kita hanya punya enam suku bangsa saja. Di antaranya: Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan Nusa Tenggara. Itulah jumlah kasar dari bangsa-bangsa di Indonesia.
Namun, tentu saja tidak spesifik. Sekarang, coba kita lihat seperti apa sebenarnya bangsa Indonesia itu. Bangsa Indonesia ialah bangsa yang kuat keterikatannya dengan budaya. Mereka -kita maksudku- merupakan bangsa multikultur yang memiliki subkultur beragam yang dipenuhi dengan perbedaan-perbedaan mendasar. Saking banyaknya, bahkan di Jawa saja, ada lebih dari ratusan suku-suku turunan dari suku besarnya -Jawa. Contoh: Sunda, Madura, Jogja, dan sebagainya. Karena keberagaman itu, bangsa-bangsa di Indonesia ini memiliki banyak sekali variasi lingua yang berbeda jenis dialek dan aksennya. Perbedaan bahasa memperlihatkan jenis sub-kultur yang dimiliki suatu kelompok atau individu, bahwa mereka berasal dari kelompok kultur besarnya. Jarang sekali hanya ada satu sub-kultur di satu provinsi -bahkan mungkin tidak ada.
Letak satu contoh, di kepulauan tempatku lahir. Kampungku berada di sebuah titik kecil dalam provinsi Kepulauan Riau. Distrik pemerintahannya ada di bawah Kota Batam, dan lokasi otoritas Kelurahan Pulau Terong. Ya, nama pulau yang cukup lezat.
Di kawasan Pulau Terong ada tujuh pulau yang terpisah dengan garis-garis bernama ‘kampung’. Beberapa di antaranya ialah: Pulau Terong, Teluk Kangkung, Teluk Sunti, Teluk Bakau, Pekasih, Geranting, dan Tumbar. Tiap-tiap desa/kampung ini memiliki perbedaan dalam keseharian dan norma yang diterapkan dengan perbedaan-perbedaan mencolok. Bahasa dan sistem penerapan kehidupannya juga sangat berbeda antara satu dan yang lain.
Contoh…?
Jika di desaku -Teluk Kangkung- perempuan-perempuannya lebih tertutup dan konservatif. Ada larangan untuk menutup aurat di desaku. Jadi, jika ada gadis atau ibu-ibu yang tidak menutup auratnya sedang berjalan di kawasan desa, jika dia orang desa kami, maka ada kebiasaan untuk menegurnya untuk menutup auratnya. Sikap itu sudah ditanamkan sejak lama, bahkan hingga sekarang.
Kami juga bicara dengan nada yang lebih halus, tidak seperti orang Melayu Batam yang suka ngerocos dengan intonasi suara tinggi dan ritme cepat. Pemuda-pemudanya tidak ada yang berhubungan -pacaran- dengan gadis di desa sendiri, kecuali jika ingin menikah. Dan, dalam desaku, barang haram seperti alkohol dilarang keras untuk dijual. Jika kedapatan menyimpan barang itu maka akan disidang, dan bisa jadi diusir dari desa. Pernah ada seorang warga pernah kedapatan menjual obat-obatan aditif (nark*ba) secara sembunyi-sembunyi, kemudian dilaporkan istrinya pada kepala desa. Si pria malang itu pun dikecam oleh kesalahannya sendiri, lalu dibuang dari desa. Kampungku tegas. Tidak ada yang lebih berharga dari kebenaran dan ketaatan pada Tuhan dan negara. Begitulah peraturan kampungku.
Berbeda dengan kampung lain, kebiasaan sosial mereka terlihat lebih terbuka dan bebas -namun masih masuk dalam ketentuan tertentu. Perbedaan dalam penggunaan juga berbeda. Di Pulau Terong, mereka lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia, sedangkan kami memakai bahasa Melayu utuh -dengan sedikit mixing bahasa Inggris. Norma… Jika membicarakan hal semacam itu, rasanya aku tak bisa menilai mana yang lebih baik. Semua wilayah dan kebudayaan memiliki pandangan masing-masing tentang norma. Di pandangan kami, norma orang-orang Pulau Terong itu sebenarnya kurang baik. Mereka suka sekali menggunakan kata-kata kasar dan mentah jika salah. Pakaian mereka -terutama para perempuan- banyak yang tidak mencerminkan sikap seorang Melayu. Jarang bisa melihat ada orang Pulau Terong yang biasa bersikap baik. Mereka adalah kaum keras, baik di hati maupun kepala. Bagi kami, sikap itu benar-benar menjengkelkan…
Ya, tapi, untuk kaum mereka, mungkin hal-hal negatif yang mereka miliki dalam society costom mereka bukanlah suatu keanehan. Karena itu kaum mereka, makannya mereka bicara begitu. Jika saja mereka merasa sikap mereka melenceng dari kata demoralitas, lalu merubah kebiasaan buruk mereka agar menjadi lebih baik lagi.
Hal yang biasa, sudah tertanam sejak lama dalam jiwa bangsa ini. Sikap nepotis, hanya melihat positif pada kaum sendiri, namun anarkis pada yang lain.
Sebenarnya, kenapa bangsa Indonesia senang menyirami sifat membanggakan kaum sendiri itu setiap hari…? Tidak di mana pun dan dalam urusan apa pun, nepotis adalah hadangan utama. Orang Jawa hanya dengan orang Jawa, Padang dengan Padang, Batak dengan Batak, Sulawesi dengan Sulawesi, dan Melayu dengan Melayu. Sebuah hierarki yang tak sepatutnya diikuti.
Aku punya beberapa pengalaman buruk soal nepotisme. Saat aku baru lulus SMA, aku menunda setahun untuk mencari kerja sebelum masuk kuliah. Rencanaku, aku ingin kuliah sambil bekerja untuk menambah uang saku.
Aku mulai menyusuri kawasan industri demi kawasan industri untuk mencari kertas legendaris yang mengatakan “Dibutuhkan, minimal lulusan SMA atau sederajat,” di depan pagar PT-PT di Batam. Setiap pagi aku berangkat awal hari, berkendara dalam sesaknya jalanan kota kecil dengan tingkat kependudukan tinggi. Setidaknya, sekitar sebulan aku mencari pekerjaan di kawasan industri. Namun, tidak dapat hasil apa-apa.
Karena lelah dengan kehampaan dengan metode on location survey aku pun memutuskan untuk beralih media pencarianku. Aku berpindah pada iklan di koran. Pas, di koran pertama yang kubeli, ada tercantum sebuah iklan yang menyatakan bahwa mereka perlu bantuan. Sebuah perusahaan makro yang menyajikan jasa reparasi motor. Kebetulan karena aku pernah belajar banyak tantang cara mengotak-atik sepeda otomatis itu, aku pun segera bergegas ke lokasi tersebut, mengirimkan lamaranku.
Dengan perasaan senang campur tawakal, aku menjumpai perwakilan dari pemilik perusahaan tersebut, memasukkan lamaranku…
Itu adalah pengalaman pertamaku melamar pekerjaan. Salah satu hari paling menegangkan, membanggakan, dan menyenangkan dalam hidupku. Saat itu, untuk pertama kali, aku merasa bahwa aku sudah setapak mulai berjalan naik ke tingkat kedewasaan, masuk dalam dunia realita. Dunia sesungguhnya. Ya, hari pertama itu sangat berbekas dalam hatiku, bahkan sampai sekarang -in this present time. Aku hanya memikirkan hasil baik, positif pada keputusan yang akan kudapat.
Tapi, kenyataan tak selalu bisa terwujud hanya dengan sebuah harapan dan doa. Fakta yang terjadi akan berakhir sesuai dengan pilihan si pemilik tempat kerja. Dan faktanya, aku dibohongi…
Di iklan, dikatakan bahwa, “CV. ******** membutuhkan montir motor. Lulusan minimal SMA dan tahu soal motor. Jika belum ahli, akan diajarkan.”
Iklan itu tertulis jelas, tanpa ada satupun unsur pragmatis yang menyembunyikan informasi lain di dalamnya. Aku paham benar maksud dari iklan itu.
Hanya saja, ketika diwawancarai, semuanya berubah total.
Ini kalimat pertama yang diucapkan sang pewawancara padaku waktu itu: “Kamu orang Padang bukan?”
Karena masih polos dan berpikir jernih, aku hanya menjawab dengan jawaban jujurku, tanpa memikirkan apa sebab ia bertanya begitu.
“Bukan. Saya asli Batam,” balasku, sesopan mungkin.
Lalu, sontak, wajah si pewawancara -yang sejak pertama tidak menunjukkan ketertarikan- menjadi sangat kecewa, seolah baru menyaksikan kekalahan tim sepak bola taruhannya.
Dia hanya membalas, “Ooh…” tanpa ketertarikan.
Seperti awal, aku juga tidak mengasumsikan apapun tentang respons orang itu, hanya tersenyum dan bersikap baik -selayaknya pelamar kerja pada umumnya.
Lalu, dengan spontan, sang peng-interview pun berkata, “Baik, nanti kami hubungi lagi, sekarang Anda bisa pulang.”
Mendengarnya, aku pun segera mengiyakan, “Baik, Pak.” lalu beranjak dari kursiku. Setelah itu pulang. Tentu saja, untuk seorang yang merasa baik, aku berpikir bahwa hasil yang akan kudapat juga baik. Aku tidak pergi dari sana dengan kecurigaan ataupun kegusaran. Aku memandang semua hal dengan polar positif saja…
Menunggu dan menunggu, aku tetap sabar dalam menanti kabar diterima atau tidaknya diriku. Pemikiranku, aku punya 80% kesempatan untuk diterima, karena perusahaan tersebut sedang memerlukan anggota secepatnya, tidak peduli siapa mereka. Namun, setelah satu bulan menunggu, tidak ada satupun kabar yang datang.
Merasa dilupakan, aku pun beranjak menuju ke perusahaan tersebut untuk mengecek situasinya. Secara mengejutkan, bengkel yang sebelumnya hanya memiliki dua montir, sekarang diisi empat montir. Dalam hati aku bertanya-tanya, apa jangan-jangan mereka merekrut orang lain karena diriku tidak masuk kualifikasi…? Jika ingin mengasumsikannya seperti itu, sebenarnya jawabannya tidak cocok dengan masalah yang berlaku. Karena mereka belum mengetesku sama sekali.
Di saat itu, aku merasa ada pemikiran yang mulai menggelap dalam kepalaku.
Aku pun menghampiri bengkel tersebut, berpura-pura untuk mengencangkan rantai motor dan isi angin ban. Di sana, ada, aku melihat orang yang meng-interview-ku di bengkel itu. Dia sedang asik ngobrol dengan seorang montir -yang kurasa paling tua di sana- tanpa menghiraukanku. Aku bicara begitu karena sebelumnya dia melihatku, namun tidak merespons apa-apa, seolah tidak pernah mengenal atau bicara padaku sama sekali. Dengan perasaan terabaikan, aku mulai merasa garau.
Sebenarnya, semua ini sudah tidak mungkin sejak awal… Aku baru menyadarinya saat itu; ketika semua kru bengkel tersebut bicara dengan bahasa Padang; ketika orang-orang tersebut berinteraksi dengan kasualnya pada sesama tapi tidak ramah pada pelanggan; ketika montir muda yang bahkan kesulitan mengatur axis roda belakangku dengan benar; dan ketika beberapa montir di sekitarku ini kelihatan tidak berpengalaman -sepertiku. Aku baru sadar, bahwa aku tidak akan diterima di bengkel ini…
“Orang-orang itu keluarga dia semua,” kata salah satu dari penjual gado-gado di dekat bengkel itu saat kutanyai tentang bengkel tersebut.
“Padang semua di situ, ndak ada orang lain,” lanjutnya sembari memberikan pesananku.
Tidak salah lagi. Itu adalah nepotisme tingkat fasik. Sikap mendahulukan keluarga tanpa mempedulikan perintah Tuhan-nya.
Memangnya ada nepotisme seperti itu?
Ah, tidak ada sih. Itu cuma klasifikasi yang kuciptakan sendiri.
Penjelasannya sederhana.
Mereka memberikan pengumuman pencarian pekerjaan pada publik, mengatakan hal yang sangat manis dan penuh harapan. Namun, pada kenyataannya mereka -atau lebih tepat, si pemilik bengkel- telah menipu semua pembaca mentah-mentah tanpa mempedulikan perasaan mereka sama sekali. Dia menyakiti perasaan para pelamar, membohongi kami. Dia bilang dia membutuhkan pekerja, lalu akan menghubungi kami nanti jika kami bisa dipakai di perusahaannya yang tak seberapa itu. Tapi sebenarnya alasan dia bilang begitu adalah, karena setiap pelamar bukanlah orang-orang yang berasal dari suku ataupun keluarganya. Sebenarnya, sejak awal jika kami sudah menjawab “Bukan.” pada pertanyaan “Kamu orang Padang?” maka di saat itu jugalah kami akan ditolak.
Dia memberikan harapan palsu, menahan kami karena berharap, lalu menipu kami secara senyap. Jika dia tidak ingin menerima kami, setidaknya, kenapa tidak jujur saja dan katakan bahwa kami ditolak. Tentu saja, rasanya akan menyakitkan. Tapi itu jauh lebih baik jika harus menunggu dan mendapati kenyataan yang lebih pahit lagi. Seolah minum kopi panas yang dicampur garam bersodium tinggi.
Jika pun dia tidak membutuhkan pekerja selain orang dari tanah kelahirannya, sebaiknya dia tak membuat iklan lamaran pekerjaan itu. Dengan itu, maka dia tak akan menyakiti perasaan siapa pun, dan tidak ada dendam yang tercipta.
“Sudah lima orang ngelamar, tapi semua ndak diterima. Semuanya bukan orang Padang soalnya,” ujar si pedagang bakso lagi.
Sepertinya, sekarang si pemilik bengkel tersebut sudah mendapat perjanjian khusus dengan lima orang di akhirat nanti -yang mungkin aku termasuk di dalamnya.
Dia telah membuat lima orang membencinya, membuat dirinya terjerumus dalam kasus pelecehan suku bangsa, hal yang paling rawan di ranah tropis-kering ini.
Dia membeda-bedakan suku yang ingin diterima dan ditolaknya. Sebuah sikap yang tak mencerminkan Bhinneka Tunggal Ika. Sebuah kelakuan buruk yang lahir dari hati penakut, hati yang memegang kuat tekad membenci bangsa lain, yang sebenarnya bukanlah musuhnya.
Orang itu, apa patut masih bisa disebut Warga Negara Indonesia…?
Menerima keluarga dan membuang orang lain. Sungguh miris. Jika semua perusahaan di Batam melakukan tindakan yang sama, apa yang akan terjadi degan bangsa ini…? Bisa kalian meramalkannya? Tidak, sebaiknya jangan. Karena pikiran dan perkataan adalah doa. Sebaiknya pikirkan dan katakan hal-hal positif saja ya…
Pesan moral pada cerita ini…?
Ah, ya, tentu saja ada. Pesannya: “Nepotisme adalah mesin pembunuh persatuan, dan hal itu akan merebut kebebasan juga hak banyak orang. Tidak peduli dari mana kita, keluarga atau bukan, kita tetap hidup, lahir, berasal, dan tinggal di tanah merah putih ini. Siapa pun kita, suku apa pun, bukanlah masalah untuk berteman dan dipercayai sebagai karyawan atau partner kerja. Jika kita sesama manusia, sesama warga Indonesia, dengan kepercayaan Pancasila yang teguh, maka kita adalah keluarga. Dan hal itu tak akan berubah selamanya. Karena kita sudah disatukan oleh ayah-ayah dan ibu-ibu kita yang berjuang dulunya. Yang sebenarnya berasal dari suku-suku dan keluarga-keluarga berbeda. Karena itu kita semuanya keluarga.”
Jadi, nepotisme bukanlah sebuah pilihan yang patut digunakan, bahkan berbahaya untuk didekati. Jika ada yang menerapkannya, maka ingatkanlah mereka, bahwa kita merupakan satu bangsa yang sama, Indonesia Merah Putih yang sama.
Aku tidak menaruh dendam ataupun kebencian pada pemilik bengkel itu. Sejujurnya, dia bukanlah orang jahat. Hanya tersesat pada jalannya saja. Aku tidak membedakan dia dari bangsa lain, atau mengutuknya karena nepotis. Walau sungguh, perasaan sakit itu memang menderaku cukup lama. Tapi syukurlah, aku tidak berakhir sepertinya.
Aku berteman, mempercayai siapa pun dari suku mana pun: Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara, sebagai sahabat dan keluargaku. Aku tidak nepotis, tidak ingin.
Jika kita berakhir menjadi orang nepotis, maka kita akan memasuki ranah baru dalam kehidupan gagal. Gagal sebagai manusia yang harusnya luhur dan baik pada semua orang -tidak peduli dari bangsa apa atau agama apa. Gagal sebagai seorang WNI yang seharusnya mempererat kekuatan kebangsaan dengan membangun persahabatan antar sesama. Dan gagal sebagai hamba Tuhan yang selalu menyakiti bangsa lain, dan men-zalimi diri sendiri karena sinis pada bangsa lain. Padahal Tuhan sudah menyebutkan dalam firman-Nya, “Jangan pernah menebar kebencian terhadap sesamamu.”
Jika nepotis adalah makanan pokok bangsa ini, maka apa yang kita asupi pada generasi muda keturunan kita bukanlah hal lain melainkan kebencian dan sifat konservatif. Tidak mempercayai orang lain, dan terus-terus saja mengalihkan mata dari manusia lain -apatis.
Hanya memikirkan diri sendiri.
Kuharap, fenomena di dunia kontemporer yang sudah menjadi jamur raksasa ini, bisa segera berakhir. Kapan berakhirnya, semoga lebih cepat dari perkiraanku…

Orangtua Orangtua Pembohong

Siapakah panutan utama anak-anak?
Awal dari pelajaran seorang manusia bermula dalam lingkungan keluarganya. Dalam pertumbuhannya, manusia merupakan jenis sapiens yang sangat bergantung sekali dengan hubungan interpersonal. Anak manusia harus mendapatkan asuhan dari manusia dewasa, mengurus mereka, memberikan kasih sayang hangat, agar mereka bisa bertumbuh dengan normal.
Namun untuk beberapa kasus, ada juga yang bisa hidup tanpa adanya bantuan manusia dewasa —Tarzan.
Perkembangan manusia adalah suatu proses yang panjang secara masa, tapi singkat dalam ingatan.
Pernahkah kalian ingat siapa yang pertama kali mengangkat kalian setelah lahir. Bidan atau dukun beranak? Ya, tidak bisa, kan. Karena apa yang kita lihat waktu itu hanya bisa tersimpan dalam waktu yang sangat singkat. Sehebat-hebatnya Superman, pasti juga mengalami masalah ini.
Namun, ketika sudah tumbuh cukup besar, dalam kurun usia 5-6 tahun, kemampuan seorang anak manusia mulai meningkat pada tahap-tahap tertentu. Dari sini, kemampuan motorik kita mulai merangkak perlahan untuk mempelajari banyak hal dengan lebih efisien. Termasuk, mengembangkan sifat kita.
Jadi, siapa panutan utama seorang anak dalam pertumbuhannya menjadi dewasa…?
Eh, apa masih belum ada yang mau menjawab? Ah, ya, aku mendengarnya. Tapi itu salah.
Um? Ah… bisa lebih keras lagi jawabnya?
Ya, benar. Orangtua. Ayah dan ibu. Merekalah panutan utama kita. Bagi mereka yang tidak punya orangtua, biasanya akan berkembang di luar naturalnya manusia —berkembang secara primitif, dengan pemikiran individual. Kebanyakan dari anak-anak ini —apalagi yang tidak diajari— akan jadi manusia-manusia dengan gangguan kapibilitas untuk bersosialisasi. Ya, walau tidak semuanya, tentu saja.
Apa sifat-sifat itu tidak terlalu hebat?Aku, syukurnya punya orangtua. Orangtua yang sangat kusayang, dan menyayangiku. Orangtua yang bangga padaku —kuharap. Walau kami jarang ngobrol —karena, aku tidak suka bicara banyak. Sifat itu datang dari ayahku. Beliau tidak suka mengeluarkan suaranya jika tak punya tujuan yang ingin disampaikan. Ia adalah pria tenang dengan tubuh tegap, bermata lebar, wajah tenang, dan berhati sabar —walau jika marah akan sangat menyeramkan.
Ayahku memiliki banyak sekali kelebihan dari segi perilaku. Aku ingin membanggakannya, karena itu aku menirunya. Sifat yang selalu menghormati orang lain, taat pada kewajiban, menjauhi diri dari maksiat apa pun jenisnya, memperlihatkan diri seperti apa adanya, memperlakukan orang lain dengan layak, tidak bicara kasar, paham dengan kemampuan dan ingin terus berkembang.
Ah, ya. Tentu saja tidak. Banyak orang yang memilikinya, kan. Aku bisa mengerti situasi itu.
Namun, untuk alasan tertentu, kita akan lebih merasa bangga jika orangtua kita memilikinya. Pernahkah, saat kalian SD, kalian membicarakan soal seperti apa pekerjaan orangtua kalian…?
“Bapakku polisi. Kalo macam-macam, ditangkap kalian.”
“Ayahku pilot. Sudah pergi keliling dunia, dibayar lagi.”
“Papaku anggota DPR. Pengamat negara ini.”
“Babe gua juragan tanah. Orang paling ditakutin di Jakarta.”
“Papi aku pemilik perusahaan mega. Punya banyak proyek yang diperebutkan.”
Yang tidak banyak omong cuma anak presiden saja.
Apa ada yang pernah bicara begitu tentang orangtuanya? Pasti pernah, kan. Tentu saja pernah. Sering juga —bagi mereka yang tumbuh satu kampung— akan saling ejek nama orangtua karena ingin memenangkan kekerenan orangtua mereka. Bagi yang berayah polisi, kebanggan yang mereka miliki akan sangat besar, sampai-sampai membuat kepala mereka jadi sekeras batu —sombong. Padahal bapaknya tukang palak warga miskin dan penyelamat kriminal kaya. Sampah bersih. Jenis manusia-manusia robot yang merespons dengan jumlah uang yang diberikan. Sungguh miris…
Begitulah anak. Mereka merupakan makhluk sombong yang suka sekali memamerkan orangtuanya. Luar biasanya kebanggan seorang anak, tidak ada yang tahu seberapa lebarnya.
Begitu anak, begitu pun bapak.
Ungkapan tersebut membuat persamaan terhadap anak dan orangtuanya.
Kebanggaan juga terletak pada orangtua terhadap anak-anak mereka.
“Anakku juara 1 lagi semester ini.”
“Anakku dapat beasiswa ke Singapura.”
“Anakku dapat kerja di perusahaan besar.”
“Anakku nikah dengan puteri pengusaha kaya.”
“Anakku jago main bola.”
Dan, bla bla bla bla bla…
Berlanjut sepanjang jalan.
Ya, mereka —para orangtua— memiliki sikap seperti itu juga. Kebanggaan terhadap anak yang mereka lahirkan, besarkan, dan sekolahkan, hingga menjadi seorang manusia saat ini akan tampak sangat mengesankan di mata mereka. Bagi tiap orangtua, tak ada hal yang paling indah selain kebahagiaan anak-anak mereka.
Hanya saja…
Terkadang sifat penyayang tersebut bisa terbentuk sangat berlawanan dengan pemikiran yang seharusnya. Yang semula kasih sayang dengan kebaikan, malah beralih jadi keegoisan tak berujung.
Tahu istilah, bela anak?
Ya. Membela anak mereka dalam situasi di mana mereka sedang mengalami masalah.
Dari sisi itu, kita bisa lihat apa efek yang terkandung di dalamnya. Yaitu, keinginan untuk tetap membanggakan anak mereka, dalam urusan atau tindakan apa pun yang mereka lakukan.
Berbeda dengan soal kebanggaan positif seperti sebelumnya, konsep bela anak ini lebih mengacu kepada sebuah sikap konservatif yang hanya memenangkan diri sendiri. Mereka tidak peduli apa sebab-musabab yang mengakibatkan pergaduhan situasi yang terjadi karena anak mereka. Yang jelas, mereka ingin anak mereka tetap terlihat benar di mata siapa pun, bahkan Tuhan.
Orangtua yang luar biasa… Saking sayangnya dengan anak, sampai-sampai sanggup membenarkan kesalahan anak-anak mereka di mata semua orang, bahkan rela mengorbankan keselamatannya menghadapi Tuhan. Sistem bela anak ini, bahkan lebih luar biasa dari Rodi atau Rhomusa.
Sangat tidak beradab dan merugikan.
Bukankah sama saja dengan berbohong jika mereka memperlakukan anak-anak mereka seperti itu: membela mereka tak peduli salah atau benar. Jika mereka ingin menunjukkan kasih sayangnya pada anak-anak mereka, harusnya mereka paham di mana letak kesalahan dan kebenaran tentang perilaku anaknya. Arahkan mereka untuk keluar dari kebatilan. Didik mereka dengan sungguh-sungguh. Jangan pernah membenarkan kesilapan mereka, tapi buat mereka sadar jika mereka itu salah. Dengan melakukannya, maka kasih sayang yang sebenarnya akan terlihat dengan jelas.
Tanpa adanya sedikit pun kebohongan.
Kita ambil dua contoh tentang fenomena ini dari dua orangtua beda profesi dan beda anak.
Yang pertama terjadi saat aku kelas 1 SMA.
Ada seorang anak, salah satu murid kelas 1, yang pernah ketangkap saat sedang bermesraan dengan seorang siswi kelas 2 di tengah hutan waktu jam istirahat. Seharusnya mereka pergi sholat dzuhur, tapi malah berzina. Ya, mereka pacaran.
Seorang warga kampung yang baru pulang dari kebun melihat perbuatan tidak senonoh keduanya, lalu merekam kejadian tersebut dengan ponselnya. Kemudian keesokan harinya, kedua pelajar tersebut pun dipanggil ke ruang kepala sekolah, bersama dengan kedua ibu mereka.
Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di sana. Namun, salah satu dari siswa di kelasku menyelinap di dekat jendela, mendengarkan. Dia me-minutes semua pembicaraan yang terjadi dalam ruangan itu, kemudian diceritakan pada kami.
“Aku dengar, mak dia marah-marah, bilang, ‘anak aku tak salah, anak kau yang salah!’.” ujarnya sambil makan keripik kentang bayaran hasil kerja kerasnya yang begitu beresiko tersebut.
“Habis. Apa kata mak si jantan?” tanyaku.
Kami semua melongok padanya, menunggu-nunggu informasi lanjutan.
“Dia kata, ‘kau jangan nak salahkan anak aku. Anak kau yang gatal, goda-godakan anak aku. Jangan kau nak salahkan anak jantan aku’ katanya.”
Seperti orang-orang zaman 80-an yang kurang ilmu, kami pun mengangguk berjamaah, menggumamkan “Oooh…” yang begitu panjang.
“Kau tahu, tak ada satu pun yang mau kalah. Dua-dua tak mau salahkan anak mereka, cuma bela anak masing-masing. Budak bedua itu entah apa jadi di dalam kantor itu, aku tidak tahu. Kurasa muka mereka merah padam karena malu,” lanjut si agen pencuri informasi tersebut.
Pada akhir cerita, kami pun mendengar pengakuan mengejutkan dari si agen.
Dia berkata, “Mak aku, jangan kata kasus pacaran. Aku ulangan dapat 0 sebab tak belajar, omelannya bisa merentet sepanjang hari. Tak ada kisahnya aku pernah dibela kalau salah. Ini, sudah jelas anaknya menodai kesucian anak orang lain dan membiarkan anak orang lain yang bukan suaminya menodainya, malah dibela mati-matian pulak.
Begitu indah, atau mungkin lebih cocok, menyedihkan sekali perkataannya itu. Kami sampai menggeleng-gelengkan kepala, takjub pada nasibnya.
Berbeda sekali dengan dua orangtua yang penuh kebohongan itu. Tidak heran. Mereka pasti shock setelah mendapati bahwa anak mereka, kebanggaan mereka, cinta mereka terkena masalah. Bagi tiap orangtua, tentu mereka ingin mengeluarkan anak mereka dari kesulitan seperti apa pun, menolong mereka.
Ada yang mengetengahkan konflik dengan minta maaf, lalu berniat untuk mengganti kerugian yang sudah disebabkannya. Ada juga yang minta damai tanpa menawarkan kompensasi apa pun, karena mereka menganggap semua masalah yang dibuat anak-anak mereka merupakan bumbu-bumbu dari tumbuh dewasa. Dan, ada juga yang bersikap seperti tadi. Tidak mau kalah, tidak mau mengaku salah. Jauh dari kata damai ataupun penanganan. Orang-orang keras kepala yang selalu saja menyuarakan kebohongan—bahwasanya anak mereka tidak salah.
Walau anak orang sudah hamil tiga bulan, tetap juga tidak salah. Meski anak orang sudah tewas di WC sekolah, tetap juga tidak salah. Biarpun harta orang telah lesap tetap juga tidak salah.
“Bukan anak aku yang buat!” kata mereka.
Kalimat legendaris orang Melayu.
Jadi, bagi kalian, apa kalian masih bisa berbangga dengan orangtua seperti itu…?
Kurasa kita sependapat. Mereka tak patut berada di posisi sebagai orangtua. Jika mereka sungguh bisa jadi orangtua, pastinya mereka paham benar, mana yang baik dan mana yang salah. Mana yang harus dibela dan mana yang harus diakui salah. Dengan mengutarakan kejujuran seperti itu, anak-anak akan belajar, bahwa sesungguhnya di dunia ini, berani untuk mengaku adalah ciri kebesaran hati manusia.
Itu adalah salah satu bentuk didikan yang benar, dan patut untuk diajarkan pada semua anak di generasi mana pun. Bukan malah bersikap egois dengan membenarkan kesalahan mereka. Mereka berbohong soal sayang pada anaknya. Dengan sikap seperti itu, mereka sudah menjerumuskan anak-anak mereka untuk menjadi manusia pengecut yang tidak berani menerima tanggung jawab. Anak-anak yang harusnya diajari sikap teguh dan berani maju untuk mengaku salah dituturkan kekecewaan oleh ibu ayah mereka sendiri—dengan terus-terusan dibela.
Jika sungguh sayang pada anak, harusnya mereka tahu bagaimana caranya mendidik mereka dengan benar. Harusnya mereka paham, bahwa di dunia kontemporer ini, sebuah kebenaran mahal harganya. Jika tidak pernah membuat anak-anak mereka mengerti dengan konsep, mengaku, lantas akan jadi apa mereka nanti. Hanya keturunan pengecut yang tidak tahu diri. Sebuah produksi gagal lainnya, dari produksi gagal veteran…

Percikan Api

Sudah lima menit ia menatapi percikan api yang timbul saat mesin las menyentuh pipa besi. Memerhatikan ayahnya yang sedang bekerja.
“Kamu nggak main, Nak?” tanya si Ayah, sambil terus mengelas.
Anak itu terdiam. Masih melongo memperhatikan percikan api yang ia anggap indah. Sampai akhirnya si Ayah berhenti sejenak, dan menatap anaknya. Si anak menatap balik.
“Nggak, Yah.”
Ayah mengangguk, lalu melanjutkan pekerjaannya.
“Teman-teman lagi liburan, ada yang ke Bali, ke Bandung, ke mana-mana,” lanjut anak itu.
“Jadi nggak ada temannya ya?”
“Ada. Ayah.”
Ayah tersenyum kecil. Lalu si ayah bertanya, “Kamu mau pergi liburan?”
“Ke mana?”
“Ke mana ya? Yang pasti nggak ke Bali, di sana mahal-mahal makanannya. Juga nggak ke Bandung, di sana macet. Ngapain kan liburan malah macet-macetan.”
Si anak tidak terlalu mendengar kata ayahnya barusan, ia hanya melamuni percikan-percikan api dari mesin las.
“Lagipula, kamu baru 10 tahun. Kalau ayah ajak kamu ke mana-mana di umur segini, nanti kamu juga lupa waktu besar. Nggak berkesan,” kata si Ayah.
Kemudian si Ayah menoleh ke arah anaknya, yang sedari tadi melamun. “Kamu lihat apa?”
“Itu,” kata si anak, “bunga api.”
“Bagus ya?”
“Bagus, kayak waktu tahun baru.”
“Berarti tiap hari di bengkel itu tahun baru dong.”
“Tapi nggak ada terompetnya…”
Kemudian ayah melanjutkan pekerjaannya yang hampir selesai. Sedangkan si anak masih menikmati percikan-percikan apinya. Sampai akhirnya besi itu terlihat bentuknya. Si ayah memasangkan kerangka besi itu dengan ban dan tempat duduknya, dan jadilah sepeda baru.
“Ini, coba naik,” ucap si Ayah.
“Nanti jatuh,”
“Nggak papa, justru pengalaman ini yang bakal kamu ingat sampai kamu besar.”
Lalu si anak duduk di atas sepeda, dan mulai mencoba mengendarainya ke luar. Di sana ada anak-anak lain yang juga sedang bermain sepeda.
Inilah liburan sederhana mereka. Karena bahagia itu harusnya sederhana. Hanya perlu kerangka besi, ban, ayah dan anaknya, serta beberapa bunga api.

Rabu, 11 Januari 2017

Makalah prasangka ,diskriminasi dan integrasi masyarakat


KATA PENGANTAR
Segala puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Pemurah,  karena berkat kemurahanNya makalah ini bisa dapat saya selesaikan. Makalah ini disusun agar kita selagi manusia dapat memperluas wawasan kita tentang Ilmu Sosial Dasar. Khususnya tentang pembahasan " Makalah prasangka ,diskriminasi dan integrasi masyarakat ?".
Makalah ini dibuat dalam rangka pembelajaran mata kuliah Ilmu sosial Dasar (softskil). Pemahaman tentang manusia dan hal – hal yang berkaitan dengannya sangat diperlukan, dengan suatu harapan suatu masalah dapat di bagi dua jenis yaitu diselesaikan dan dihindari, dan sekaligus menambah wawasan bagi kita semua.
Saya selaku Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Bapak Herry Sussanto selaku Dosen Ilmu Sosial Dasar, Universitas Gunadarma.
Makalah ini,  tentunya masih jauh dari kesempurnaan, karena penulis juga masih dalam tahap pembelajaran. Oleh karena itu arahan, koreksi dan saran, sangat penulis harapkan. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca.
Terima kasih.
Depok, 12 January 2017


Muhammad Fhadil Afriliansyah
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Setiap ada masalah pasti ada sikap untuk memecahkanya. Itulah kata-kata yang tidak asing lagi di telinga kita. Tetapi kadang kita tidak mengetahu apa sebenarnya sikap itu, dan bagai mana kita mengambil sikap dalam setiap permasalahan. Begitu juga dengan prasangka. Kadang kita kurang memahami apa yang di maksud dari prasangka itu sendiri. Bahkan kita mengartikan prasangka itu identik dengan hal-hal yang negativ atau hal jelek saja, padahal sebenarnya tidak demikian. Maka dari itu dalam makalah ini kami mau mencoba membahas tentang sikap dan prasangka, untuk menambah wawasan dan pengetahuan kita.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pembentukan sikap dan prasangka?
2.      Apa itu pengertian prasangka, diskriminasi, dan integrasi dalam masyarakat?
3.      Apa saja hal hal yang bisa mempengaruhi perubahan sikap?
4.      Apa saja sebab-sebab terjadinya prasangka?
5.      Bagaimana cara mengurangi dan mengatasi prasangka?
6.      Bagaimana cara menghilangkan prasangka?


BAB II
PEMBAHASAN

PRASANGKA. DISKRIMINASI, DAN INTEGRASI MASYARAKAT

A.    Sikap dan Prasangka
Prasangka merupakan sikap sosial, yaitu kecenderungan (yang bersifat perasaan dan pandangan) untuk berespon (positif/ negatif) terhadap orang, objek, atau situasi. Dalam sikap terkandung suatu penilaian emosional yang dapat berupa suka, tidak suka, senang, sedih, cinta, benci, dan sebagainya. Kaena dalam sikap terdapat suatu kecenderungan berespons, maka seseorang mempunyai sikap yang umumnya diketahui perilaku atau tindakan apa yang akan dilakukannya bila bertemu dengan objeknya.
1. Pembentukan sikap
Sikap merupakan reaksi atao respon seseorang terhadap suatu obyek tertentu yang mengandung suatu pemikiran baik atau buruk, setuju atautidak setuju karena adanya stimulus dari luar yang mengakibatkan suatu tindakan tertentu.
Sikap terbentuk karena beberapa hal diantaranya adalah;
a.        Terbentuk karena factor genetic
Terbentuknya sikap antara individu yang satu dengan yang lain pasti berbeda-beda, ini di sebabkan karena factor genetic dan pola hidup yang berbeda-beda pula.
b.      Terbentuk karena adanya pengelaman.
Kerena sikap yang berasal dari pengalaman sehingga sikap di upayakan dengan cara pendidikan , pelatihan, dan sebagainya.
c.      Terbentuknya karena norma-norma yang telah di hayati sebelumnya.
d.   Terbentuknya karena meniru sikap di pihak lain yang pernah di ketahuinya.
e.   Karena adanya interaksi dengan obyek tertentu baik interaksi dalam kelompok maupum dari luar.
2. Fungsi sikap
a. Fungsi instrumental
Dikatakan demikian karena sikap yang kita pegang mempunyai alas an untuk mendapatkan suatu manfaat yang semata-mata mengekspresikan keinginan kita untuk mendapatkan hadiah dan menghindari hukuman.
b. Fungsi nilai ekspresif
Sikap yang mengspresikan atas mencerminkan konsep diri kita terhadap suatu obyek tertentu.
c. Fungsi perubahan ego
Sikap yang berfungsi melindungi kita dari kecemasan atau ancaman bagai harga diri kita.
d. Fungsi penyesuaian social
Dengan sikap tertentu kita dapat menjadi anggota dari suatu komunitas tertentu.
3. Pembentukan Prasangka
Seorang individu atau kelompak yang mempunyai prasangka terhadap individu/kelompok lain akan memandang segala fakta yang baik akan menjdi propaganda.
Terbentuknya prasangka itu sendiri terbentuk dalam masa perkembangan seseorang bukan di bawa sejak lahir dan sama halnya dengan sikap. Karna terbentuknya pada masa perkembangan seseorang maka orang tua di anggap guru utama Prasangka pada saat seseorang masih usia dini. Selain itu teman juga seseorang yang mempengarui prasangaka pada saat dalam usia sekolah.dan lingkunngan sekitar menjadi pengaruh prasangka pada usia dewasa dan tua.
Selain itu hal yang dapat mempengarui terbentuknya prasangka pada seseorang adalah sebagai berikut:
a. Perbedaan antar kelompok/ perbedaan antar ras atau etnis.
Prasaangka yang bersumber dari perbedaan etnis dapat di temukan pada masarakat heterogen. Yang mempunyai latar kebudayaan yang berbeda-beda. Sedangkan yang ber sumber dari perbedaan ras dapat di temukan dalam masyarakat yang multirasial seperti amerika dan negara-negara eropa lainya.
b. Perbedaan idiologi
Ini terjadi pada masarakat di Negara yang memiliki idiologi yang kuat terhadap idiologi lain yang menjadi lawanya.
c. Perbedaan yang bersumber dari kejadian historis.
Contohnya:prasangka terhadap orang yang berkulit putih terhadap negro di amerika serikat. Yang berkar dari sejarah pebudakan orang-orang negro pada 300san tahun yang lalu. Walupun sekarang orang-orang negro sudah bangkit tetapi tetap saja orang-orang berkulit putih menganggap orangt negro sebagai manusua pemalas,bvodoh dll.
d. Kesenjangan social kelompok mayoritas tehadap kelompok minoritas.
4.      Hal hal yang mempengaruhi perubahan sikap
1. Karateristik sistem sikap
a. Sikap extreme
Yaitu sikap yang sulit diubah baik dalam perubahan yag kongruen maupun yang inkongruen. Perubahan kongruen adalah perubahan yang searah yakni bertambahnya drajat kepositifan atau kenegatifan dari sikap semula. Sedangkan perubahan inkongruen adalah perubahan sikap kearah yang berlawanan. Yang semula positif menjadi negative dan sebagainya.
b. Multifleksitas
Yaitu suatu sikap yang mudah diubah secara kongruen tetapi sulit diubah secara inkongruen atau sebaliknya
c. Konsistensi
Yaitu sikap yang stabil karena adanya komponen yang saling mendukung. Sikap ini mudah dirubah secara kongruen, sedangkan sikap yang tidak stabil lebih mudah diubah secara inkongruen.
d. Interconnectedness
Yaitu keterikatan suatu sikap dengan sikap lain yang saling berhubungan. Contohnya ketaaatan seseorang terhadap agama yang dianutnya dikaitkan dengan kencintaan yang begitu mendalam kepada orang tuanya yang telah meninggal karena agama yang sama. Sikap ini sulit diubah scara inkongruen.
2. Kepribadian individu
Perubahan sikap seseorang sangat dipengaruhi oleh aspek aspek kepribadian. Adapun aspek aspek kepribadian tersebut adalah:
a. Intelegensi
Tingkat pemahaman seseorang dalam memahami suatu informasi sangat mempengaruhi sikapnya.
b. General persuasibility
Adalah kesiapan seseorang untuk menerima pengaruh social tanpa memandang komunikatornya, topic, media, dan komunikasinya.
c. Self defensiveness
Yaitu kecenderungan seseorang untuk mempertahankan sikapnya demi mempertahankan hargadirinya.
3. Afisiliasi kelompok
Perubahan sikap seseorang sangat dipengaruhi oleh dukungan kelompok terhadap dirinya. Seseorang yang telah memegang teguh norma kelompoknya akan sulit diubah sikapnya secara inkongkruen tetapi lebih mudah dirubah secara kongruen dengan cara diberi arahan dan pengetahuan atau pengalaman oleh kelompoknya
5.      Komponen Sikap
a.       Komponen kognitif: proses evaluatif (membandingkan, menganalisis,mendayagunakan pengetahuan yang ada untuk memberikan sesuaturangsang) perubahan pada ranah ini akan mempengeruhi sikap
b.      Komponen Afektif: perasaan senang, tidak senang dan perasaanemosional lain sebagai akibat dari proses evaluatif yang dilakukan
c.       Komponen Perilaku: sikap selalu diikuti dengan kecenderungan untukberpoila perilaku tertentu (disonansi sikap: ketidakcocokan perilaku seseorang dengan sikapnya


B.     Kategorisasi dan Stereotipe
Kategorisasi adalah proses pengambilan keputusan dengan jalan mengelompokkan benda ke dalam kelompok tertentu. Kategorisasi pada dasarnya merupakan proses kognitif yang netral; artinya, menetapkan benda dalam kategori tertentu; individu tidak ikut menilai. Kalaupun memberikan penilaian, baik langsung maupun tidak langsung melalui proses pelaziman (conditioning), kemungkinan besar gagasan atau gambaran negative akan melekat atau menetap pada orang tersebut.  
Stereotipe adalah tanggapan atau gambaran tertentu mengenai sifat-sifat dan watak pribadi orang/ golongan lain yang bercorak negatif akibat tidak lengkapnya informasi dan sifatnya yang subjektif.
Kesulitan komunikasi akan muncul dari penstereotipan (stereotyping), yakni menggeneralisasikan orang-orang berdasarkan sedikit informasi dan membentuk asumsi orang-orang berdasarkan keanggotaan mereka dalam suatu kelompok. Dengan kata lain, penstereotipan adalah proses menempatkan orang-orang ke dalam kategori-kategori yang mapan, atau penilaian mengenai orang-orang atau objek-objek berdasarkan kategori-kategori yang sesuai, ketimbang berdasarkan karakteristik individual mereka. Banyak definisi stereotype yang dikemukakan oleh para ahli, kalau boleh disimpulkan, stereotip adalah kategorisasi atas suatu kelompok secara serampangan dengan mengabaikan perbedaan-perbedaan individual. Kelimpik-kelompok ini mencakup : kelompok ras, kelompok etnik, kaum tua, berbagai pekerjaan profesi, atau orang dengan penampilan fisik tertentu. Stereotip tidak memandang individu-individu dalam kelompok tersebut sebagai orang atau individu yang unik.
Contoh stereotip :
Ø Laki-laki berpikir logis
Ø Wanita bersikap mental
Ø Orang berkaca mata minus jenius
Ø Orang batak kasar
Ø Orang padang pelit
Ø Orang jawa halus-pembawaan
Faktor-faktor yang menyebabkan adanya stereotip antara lain:
1.      Sebagai manusia kita cenderung membagi dunia ini ke dalam dua kategori : kita dan mereka. Karena kita kekurangan informasi mengenai mereka, kita cenderung menyamaratakan mereka semua, dan mengangap mereka sebagai homogen.
2.      Stereotip tampaknya bersumber dari kecenderungan kita untuk melakukan kerja kognitif sedikit mungkin dalam berpikir mengenai orang lain. Dengan kata lain, stereotip menyebabkan persepsi selektif tentang orang-orang dan segala sesuatu disekitar kita.
Stereotip dapat membuat informasi yang kita terima tidak akurat. Pada umumnya, stereotip bersifat negative. Stereotip tidak berbahaya sejauh kita simpan di kepala kita, namun akan bahaya bila diaktifkan dalam hubungan manusia. Stereotip dapat menghambat atau mengganggu komunikasi itu sendiri. Contoh dalam konteks komunikasi lintas budaya misalnya, kita melakukan persepsi stereotip terhadap orang padang bahwa orang padang itu pelit. Lewat stereotip itu, kita memperlakukan semua orang padang sebagai orang yang pelit tanpa memandang pribadi atau keunikan masing-masing individu. Orang padang yang kita perlakukan sebagai orang yang pelit mungkin akan tersinggung dan memungkinkan munculnya konflik. Atau misal stereotip terhadap orang batak bahwa mereka itu kasar. Dengan adanya persepsi itu, kita yang tidak suka terhadap orang yang kasar selalu berusaha menghindari komunikasi dengan orang batak sehingga komunikasi dengan orang batak tidak dapat berlangsung lancar dan efektif. Stereotip terhadap orang afrika-negro yang negatif menyebabkan mereka terbiasa diperlakukan sebagai kriminal. Contohnya, di Amerika bila seseorang (kulit putih) kebetulan berada satu tempat/ruang dengan orang negro mereka akan , secara refleks, melindungi tas atau barang mereka, karena menggangap orang negro tersebut adalah seorang pencuri. Namun, belakangan, stereotip terhadap orang negro sudah mulai berkurang terleih sejak presiden amerika saat ini juga keturunan negro. Orang Indonesia sendiri di mata dunia juga sering distereotipkan sebagai orang-orang ’anarkis’ , ’bodoh’, konservatif-primitif, dll.

C.    Prasangka dan Diskriminasi
Prasangka adalah pengambilan keputusan tanpa penelitian dan pertimbangan yang cermat, tergesa-gesa atau tidak matang karena kurangnya pengetahuan, pengertian, dan fakta kehidupan yang menunjukkan pada sikap ketidakadilan.
Diskriminasi adalah perlakuan yagn sifatnya membeda-bedakan antara sesame warga Negara karena pengaruh keturunan, suku, warna kulit dan agama

D.    Sebab-sebab Terjadinya Prasangka
Prasangka merupakan salah satu fenomena yang hanya bisa ditemui dalam kehidupan sosial. Munculnya prasangka merupakan akibat dari adanya kontak-kontak sosial antara berbagai individu di dalam masyarakat. Seseorang tidak mungkin berprasangka bila tidak pernah mengalami kontak sosial dengan individu lain. Akan tetapi prasangka tidak semata-mata dimunculkan oleh faktor sosial. Faktor kepribadian turut berperan dalam menciptakan apakah seseorang mudah berprasangka atau tidak. Walaupun faktor sosial sangat menunjang untuk menciptakan prasangka, belum tentu seseorang akan berprasangka karena masih tergantung pada tipe kepribadian yang dimiliki, apakah ia memiliki tipe kepribadian berkecenderungan berprasangka atau tidak. Lalu manakah yang lebih penting faktor sosial atau faktor kepribadian dalam menciptakan prasangka? Jawabannya bisa keduanya sama penting atau bisa salah satu lebih penting. Apabila tekanan dalam melihat prasangka adalah konteks sosialnya, tentu saja faktor sosial merupakan faktor terpenting. Sedangkan bila konteks individu yang ditekankan, maka faktor individual bisa jadi dinilai lebih penting.
Ada lima pendekatan dalam menentukan sebab terjadinya prasangka, yaitu sebagai berikut.
a.       Pendekatan Historis
Didasarkan atas teori Pertentangan Kelas yaitu menyalahkan kelas rendah yang imperior, dimana mereka yang tergolong dalam kelas atas mempunyai alasan untuk berprasangka terhadap kelas rendah).
b.      Pendekatan Sosiokultural dan Situasional
Meliputi mobilitas sosial, konflik antar kelompok, stigma perkantoran dan sosialisasi.
c.       Pendekatan Kepribadian
Teori ini menekankan kepada faktor kepriadian sebagai penyebab prasangka (Teori Frustasi Agresi).
d.      Pendekatan Fenomenologis
Ditekankan bagaimana individu memandang/mempersepsikan lingkungannya, sehingga persepsilah yang menyebabkan prasangka.
e.       Pendekatan Naïve
Menyatakan bahwa prasangka lebih menyoroti objek prasangka dan tidak menyoroti individu yang berprasangka.

E.     Mengatasi dan Mengurangi Prasangka
Usaha untuk mengatasi dan mengurangi prasangka yaitu sebagai berikut:
1.      Perbaikan kondisi sosial ekonomi
2.      Melalui pendidikan anak
3.      Mengadakan kontak di antara dua kelompok yang berprasangka
4.      Permainan peran
5.      Perluasan kesempatan belajar
6.      Sikap terbuka dan sikap lapang
7.      Memutuskan siklus prasangka: belajar tidak membenci karena dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain. Dengan cara mencegah orang tua dan orang dewasa lainnya untuk melatih anak menjadi fanatic.
8.      Berinteraksi langsung dengan kelompok berbeda:
i)           contact hypothesispandangan bahwa peningkatan kontak antara anggota dari berbagai kelompok sosial dapat efektif mengurangi prasangka diantara mereka. Usaha-usaha tersebut tampaknya berhasil hanya ketika kontak tersebut terjadi di bawah kondisi-kondisi tertentu.
ii)         extended contact hypothesis—sebuah pandangan yang menyatakan bahwa hanya dengan mengetahui bahwa anggota kelompoknya sendiri telah membentuk persahabatan dengan anggota kelompokout-group dapat mengurangi prasangka terhadap kelompok tersebut.
9.      Kategorisasi ulang batas antara “kita” dan “mereka” hasil dari kategorisasi ulang ini, orang yang sebelumnya dipandang sebagai anggota out-group sekarang dapat dipandang sebagai bagian dari in-group.
10.  Intervensi kognitif: memotivasi orang lain untuk tidak berprasangka, pelatihan (belajar untuk mengatakan “tidak” pada stereotype).
11.  Pengaruh social untuk mengurangi prasangka.

F.     Prasangka dan Integrasi Masyarakat
Integrasi adalah kerja sama dari seluruh anggota masyarakat secara keseluruhan, mulai dari individu, keluarga, lembaga-lembaga dan masyarakat secara keseluruhan sehingga menghasilkan persenyawaan-persenyawaan berupa adanya konsensus nilai-nilai yang sama-sama dijunjung tinggi.
Bentuk-bentuk  akomodatif yang dapat mengurangi konflik sebagai akibat dari prasangka, meliputi empat dasar sistem, yaitu:
a.       Sistem budaya, seperti nilai-nilai Pancasila dan UUD 1994
b.      Sistem sosial, seperti kolektif-kolektif sosial dalam segala bidang
c.       Sistem kepribadian, terwujud sebagai pola-pola penglihatan (persepsi), perasaan, pola-pola penilaian yang dianggap pola-pola keindonesian
d.      Sistem organik jasmaniah, di mana nasion tidak didasarkan atas persamaan ras.

Dalam hal ini terjadi kerja sama, akomodasi, asimilasi dan berkuranmgnya sikap-  sikap prasangka di antara anggota msyarakat secara keseluruhan. Integrasi masyarakat akan terwujud apabila mampu mengendalikan prasangka yang ada di dalam masyarakat, sehingga tidak terjadi konflik, dominasi, mengdeskriditkan pihak-pihak lainnya dan tidak banyak sistem yang tidak saling melengkapi dan tumbuh integrasi tanpa paksaan. Oleh karena itu untuk mewujudkan integrasi bangsa pada bangsa yang majemuk dilakukan dengan mengatasi atau mengurangi prasangka.
Menurut pandangan para penganut fungsionalisme integrasi sosial dalam masyarakat senantiasa terkait dengan dua landasan berikut :

- Suatu masyarakat senantiasa terintegrasi di atas tumbuhnya konsensus (kesepakatan) di antara sebagian besar anggota masyarakat tentang nilai-nilai kemasyarakatan yang bersifat fundamental (mendasar)
- Masyarakat terintegrasi karena berbagai anggota masyarakat sekaligus menjadi anggota dari berbagai kesatuan sosial (cross-cutting affiliation). Setiap konflik yang terjadi di antara kesatuan sosial dengan kesatuan sosial lainnya akan segera dinetralkan oleh adanya loyalitas ganda (cross-cutting loyalities) dari anggota masyarakat terhadap berbagai kesatuan sosial.

            Sehingga definisi dari integrasi sosial dalam masyarakat dapat diartikan sebagai kerjasama dari seluruh anggota masyarakat, mulai dari individu, keluarga, lembaga-lembaga dan masyarakat secara keseluruhan. Sehingga menghasilkan persenyawaan-persenyawaan, berupa adanya konsensus nilai-nilai yang sama dijunjung tinggi. Dalam hal ini terjadi kerja sama, akomodasi, asimilasi dan berkuranmgnya sikap-sikap prasangka di antara anggota msyarakat secara keseluruhan.
            Integrasi masyarakat akan terwujud apabila mampu mengendalikan prasangka yang ada di dalam masyarakat, sehingga tidak terjadi konflik, dominasi, mengdeskriditkan pihak-pihak lainnya dan tidak banyak sistem yang tidak saling melengkapi dan tumbuh integrasi tanpa paksaan.

            Integrasi sosial dalam masyarakat dapat dicapai apabila unsur-unsur sosial saling berinteraksi.Selain itu norma-norma sosial dan adat istiadat yang baik turut menjadi penunjang untuk mencapai integrasi sosial tersebut. Hal ini dikarenakan norma-norma sosial dan adat istiadat merupakan unsur yang mengatur perilaku dengan mengadakan tuntutan mengenai bagaimana orang harus bertingkah laku.
            Namun demikian tercapainya integrasi sosial dalam masyarakat memerlukan pengorbananm, baik pengorbanan perasaan, maupun pengrobanan materil. Dasar dari pengorbanan adalah langkah penyesuaian antara perbedaan perasaan, keinginan, ukuran dan penilaian di dalam masyarakat tersebut.  Maka dari itu norma sosial sebagai acuan bertindak dan berprilaku dalam masyarakat akan memberikan pedoman untuk seorang bagaimana bersosialisasi dalam masyarakat.
            Adapun faktor - faktor internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi integrasi sosial dalam masyarakat, antara lain sebagai berikut:
-Faktor interna
l: kesadaran diri sebagai makhluk sosial, tuntutan kebutuhan, dan semangat gotong royong.
-Faktor eksternal: tuntutan perkembangan zaman, persamaan kebudayaan, terbukanya kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan bersama, persaman visi, misi, dan tujuan, sikap toleransi, adanya kosensus nilai, dan adanya tantangan dari luar


BAB III
KESIMPULAN


Prasangka merupakan sikap sosial, yaitu kecenderungan (yang bersifat perasaan dan pandangan) untuk berespon (positif/negatif) terhadap orang, objek, atau situasi. Dalam sikap terkandung suatu penilaian emosional yang dapat berupa suka, tidak suka, senang, sedih, cinta, benci, dan sebagainya.Seorang individu atau kelompak yang mempunyai prasangka terhadap individu/kelompok lain akan memandang segala fakta yang baik akan menjdi propaganda.

Sikap merupakan reaksi atao respon seseorang terhadap suatu obyek tertentu yang mengandung suatu pemikiran baik atau buruk, setuju atau tidak setuju karena adanya stimulus dari luar yang mengakibatkan suatu tindakan tertentu.
Terbentuknya prasangka itu sendiri terbentuk dalam masa perkembangan seseorang bukan di bawa sejak lahir dan sama halnya dengan sikap. Karna terbentuknya pada masa perkembangan seseorang maka orang tua di anggap guru utama Prasangka pada saat seseorang masih usia dini. Selain itu teman juga seseorang yang mempengarui prasangaka pada saat dalam usia sekolah.dan lingkunngan sekitar menjadi pengaruh prasangka pada usia dewasa dan tua.
Kategorisasi adalah proses pengambilan keputusan dengan jalan mengelompokkan benda ke dalam kelompok tertentu. Kategorisasi pada dasarnya merupakan proses kognitif yang netral; artinya, menetapkan benda dalam kategori tertentu; individu tidak ikut menilai. Kalaupun memberikan penilaian, baik langsung maupun tidak langsung melalui proses pelaziman (conditioning), kemungkinan besar gagasan atau gambaran negative akan melekat atau menetap pada orang tersebut.  
Stereotipe adalah tanggapan atau gambaran tertentu mengenai sifat-sifat dan watak pribadi orang/ golongan lain yang bercorak negatif akibat tidak lengkapnya informasi dan sifatnya yang subjektif.
Diskriminasi adalah perlakuan yagn sifatnya membeda-bedakan antara sesame warga Negara karena pengaruh keturunan, suku, warna kulit dan agama
Integrasi adalah kerja sama dari seluruh anggota masyarakat secara keseluruhan, mulai dari individu, keluarga, lembaga-lembaga dan masyarakat secara keseluruhan sehingga menghasilkan persenyawaan-persenyawaan berupa adanya konsensus nilai-nilai yang sama-sama dijunjung tinggi.


DAFTAR PUSTAKA


www.edukasi.kompasiana.com
www.riyan-adiyasa.blogspot.com/2011/12/sikap-dan-prasangka.html
www.100jutasebulan.com/definisi/10346-Definisi-Stereotipe.html
www.isramrasal.wordpress.com
www.smartpsikologi.blogspot.com
www.annisaavianti.wordpress.com
www.mustainronggolawe.wordpress.com